Catatan Seorang Wali Kelas Bagian Pertama (Sebuah Refleksi)


Catatan Seorang Wali Kelas Bagian Pertama (sebuah Refleksi)
Bersama Anak-Anak Kuncup Selalu Istimewa Bagiku 
“kita tidak akan pernah memahami sesuatu dengan lebih baik, sebelum melangkah dan berusaha untuk mengalaminya sendiri”. (Makar si guru kampung)


Kata guru kampung,

Sebaik apapun teori dari para ahli pendidikan, tetapi jika guru tidak mengalamainya sendiri maka pemahaman yang dihasilkanpun tidak akan maksimal, (itu pendapat saya, bolehkan kalau berbeda?); bahkan mungkin bisa menghasilkan kesalahan penafsiran dari guru kepada siswanya. Mengapa saya katakan demikian, karena yang dihadapi adalah siswa yang pada hakekatnya memiliki pemikiran, rasa, dan penilaian tersendiri terhadap sosok guru yang dijumpai setiap hari di sekolah.  

Mungkin kata yang tepat untuk merangkumnya adalah “kenali lebih dekat maka engkau akan tahu lebih banyak”.  

Inilah catatan saya, selama menjadi wali kelas X IPS 2 di SMA Kanaan Jakarta. Kelas ini, kata sebagian teman-teman guru, kelas yang baik, aktif dalam belajar, ada juga yang mengatakan kelas ini pendiam, suka tidur dan sejuta hal positif dan negatif lainnya. Ya biasalah, setiap orang memiliki pemikiran tersendiri. Apakah ada yang salah?; Oooh sama sekali tidak, selama masih hidup di bumi yang sama, setiap pemikiran adalah benar menurut kontruksi berpikir sang pemiliknya sendiri.

Demikian halnya dengan saya, sebagai seorang guru muda yang ditempah pada medan yang sulit Indonesia bagian Timur, dan dibentuk dalam pendidikan seminari yang cukup disiplin; maka di medan pengabdian (baca:sekolah) konsep itu yang saya pegang. Meskipun saya sendiri harus banyak belajar tentang kata disiplin itu.
            
Lanjut ya, awal tahun 2016 kebetulan saya dipercayakan oleh pimpinan untuk menjadi wali kelas. “Wah kayaknya seru ne jadi wali kelas”, pikirku saat itu. Singkat kata, liburan usai.

“bapak ibu semua, yang wali kelas X, silahkan berkenalan dengan siswa-siswi yang menjadi perwaliannya, sambil menyiapkan perangkat kelas”.

Itu kata yang paling saya ingat dari kepala sekolah, ibu Indri Astuti, saat pertemuan hari pertama masuk sekolah.

Kini tibalah saat yang paling sulit untuk dilupakan. Pukul 06.45 WIB, saya melangkah dengan pasti, menelusuri kordor sekolah dan bergegas masuk kelas untuk berkenalan. Sangking semangatnya, saya sampai salah masuk kelas. Ternyata saya wali kelas X IPS 2 dan kelas yang saya datangi adalah kelas X IPS 1. Kesialan yang memalukan ini karena saya sudah memperkenalkan diri sebagai wali kelas X IPS 1.

“Wah parah bangat si bapak”.

Catatan Seorang Wali Kelas Bagian Pertama (Sebuah Refleksi)
Salah satu momen bersama anak-anak X IPS 2 yang sunggu istimewa (Kuncup)
Mungkin kalau Hellen (muridku), sudah mengenal gaya saya mendidik, pasti darah muda ini akan berkata demikian; karena memang itu gaya celetukan khasnya dalam obrolan ringan kami.  

“Maaf pak ini kelas saya, bapak wali kelas X 2, kelasnya ada di sebelah” kata ibu Onni, rekan saya di SMA Kanaan Jakarta.

“Ah.................” , hanya itu sambil berlalu, karena tak ingin menahan malu lebih lama lagi di kelas itu. Sambil diiringi senyum simpul siswa sayapun berlalu.

****
Catatan Seorang Wali Kelas Bagian Pertama (Sebuah Refleksi)
Kuncup
“Kuncup”,  julukan untuk komunitas X IPS 2. Ada persaudaraan, kebersamaan yang berpadu dengan salah paham dan pertengkaran kecil alah remaja; kemudian digabungkan dengan marah-marah dan kegilaan yang sengaja diciptakan wali kelasnya, maka muncullah Kuncup.

Apa itu kuncup, saya sendiripun sebagai wali kelasnya, jujur tidak mengerti makna dibalik istilah generasi Z itu. Jika mereka (baca: siswa kelas X 2) bahagia maka biarlah hal itu terjadi, setidaknya itulah pikirku kalut berbalur senyum tanda tak mengerti.
Catatan Seorang Wali Kelas Bagian Pertama (Sebuah Refleksi)
Simbol Kuncup Sebuah Cerita Untuk Kehidupan Anak Muda

 “Ah si bapak bisa aja” mungkin, jika bersua sekiranya itulah celetukan JL (inisial), salah seorang muridku yang paling gemuk di kelas X 2, hahaa...”.

Singkat kata, singkat cerita, marah-marah, mengoceh, dan berbagi ekspresi yang tak mengenakan, nyaris tiap hari saya pertontonkan pada mereka selama kurang lebih 3 bulan masa perkenalan kami. Mulai dari masalah piket kelas, soal tugas sekolah, masalah baju keluar, hingga kasus terlambat menjadi topik saya untuk memarahi mereka. Namun satu hal yang pasti, setiap kali masuk kelas X 2, mereka selalu menghadirkan ide-ide kreatif, pemikiran yang lebih segar dalam menciptakan karya untuk mengolah rasa dan mengolah pikir yang baru dan terupdate, karena kalian adalah bagian dari sumber inspirasi saya yang hidup.
Catatan Seorang Wali Kelas Bagian Pertama (Sebuah Refleksi)
Trims Anak-anak (sebuah Kejutan di ulang tahunku)
@BERSAMBUNG-----

Baca Juga
Catatan Seorang Wali Kelas Edisi Ke 2 
“Jangan pernah menyerah melakukan apapun yang kalian inginkan, dimana ada Tuhan yang tinggal di dalam diri kalian, kalian tak akan salah jalan dan akan selalu menemukan jawaban atas semua pertanyaan dalam hidup kalian”.
Baca juga:
Rela Belajar Gila Demi 3 O

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Catatan Seorang Wali Kelas Bagian Pertama (Sebuah Refleksi)"

Posting Komentar

Tinggalkan kesan bahwa anda pernah singgah, walau hanya sesaat.