Rela Belajar Gila Demi 3'O

Menemani remaja dalam proses tumbuh dan berkembangnya, selalu membahagiakan hati, jika dilakukan dengan hati. Namun, jika kurang hati-hati hanya akan membuat remaja itu jadi tidak berarti. Alias terjerumus ke jejak batin yang luka hati.
Kata-kata yang tertulis di atas bukanlah ungkapan dari filsuf ternama ataupun penulis terkenal. Tetapi hanya refleksi dari seorang guru kampung biasa, yang sedang belajar dari murid dan dari para guru hebat yang dijumpai. 

Awal tahun ajaran baru, 2016 saya diberi kesempatan untuk menjadi wali kelas X IPS 2 SMA Kanaan Jakarta oleh pimpinan, ibu Indri Astuti. Kisah lebih lanjutnya baca di sini.  

Mengawali pertemuan kami, selain berkenalan materi ini yang saya bawahkan sebagai pondasi awal bagi 23 siswa kelas X IPS 2. Materinya tentang olah otak, olah hati, dan olah raga yang saya singkat menjadi 3 O. Konsep 3’ O adalah “bekal hidup” yang diberikan pastor, Jhon Kore, bapak rohani saya dan pembina seminaris St. Fransiskus Asisi, Waena, Jayapura Papua.

“Olah otak, itulah tujuan kalian ke sekolah, belajar dan berusaha menjadi orang yang cerdas. Tetapi ingat cerdas saja tidak cukup, kalian harus memiliki hati yang melayani dan mengampuni, itulah makna “O” yang kedua anak-anak sekalian.

Lantas berhenti sampai di sini?, sama sekali tidak. Jika kalian sudah cerdas dan telah memiliki hati yang baik, atau familiarnya baik hatinya, belumlah lengkap. Kalian harus memiliki raga (tubuh jasmani) yang sehat, kuat dan kokoh. Semua itu bisa terjadi kalau kalian hidup sehat dan jadikan hati dan budimu bait suci Allah”.

Kira-kira seperti itulah wejengan saya mengawali pertemuan kami hari itu. Saya sebagai wali kelasnya dan mereka sebagai murid saya.

Penuh cerita memang menemani 23 orang siswa-siswi metropolitan itu. Dalam perjalanan kami masing-masing mencoba mempelajari satu sama lain. Kira-kira seperti itulah kesan saya diawal-awal kebersamaan kami. Selanjutnya memang mereka adalah anak-anak yang baik hatinya. Selalu menghadirkan sejuta pesona, decak kagum berpadu menjadi satu. Amarah, bahagia, sedih, bangga, dan kesal, terkontaminasi menjadi satu; yang dalam refleksi pribadiku kusebut “belajar gila”.

7 september, sebuah momentum cinta dan tanggung jawab bermula. Bukan karena ulang tahunku melainkan cara anak-anak ini memberi kejutan buatku. Kisahnya baca disini.

Kue ulang tahun, nyayian selamat ulang tahun, dan kreatifitas gaya remaja metropolitan mereka sajikan, dari hasil kumpul sukarela anak-anak. Ah itu membahagiakan dan mencipatakan ruang kontemplasi tersendiri sepanjang perjalanan ini. Itu pasti. Tapi yang berkesan adalah cara mereka, jujur sebelum itu, tingkah mereka tidak lazim menurutku. Saat itu sejujurnya memancing emosi jiwa, kucoba bertahan karena labeling guru melakat pada nama belakangku, itulah penguatku kalah itu.

Jujur harus saya katakan saat itu saya ingin menangis, dan puji Tuhan saya tidak memiliki penyakit jantung, jika ada mungkin saya sudah mati dengan dinamika yang dihadirkan murid-muridku. Panjang celotahanku ini jika dituruti. Sejak saat itu, saya melihat ada cinta, dan sejak itu pula komitmenku untuk membimbing dan menemani kumpulan orang muda metropolitan ini dengan hati. Ditambah dengan rasa, tetapi tidak membiarkan logika dan ketegasan berlalu.

Segala pendekatan, pada setiap pribadi anakpun saya lakukan. Termasuk cara-cara gila saya di grup line kelas X Ips 2. Apakah ada yang tersakiti dengan cara saya, tentu ada; dan itu pasti. Tidak ada manusia yang sempurna dan paling benar sendiri, walau itu seorang guru sekalipun. Ada juga apresiasi jujur kalau “cara-cara gila” yang saya ciptakan mendapat tempat di hati anak-anak yang baik hati ini.

Sebut saja Jl, inisial gadis terheboh nomor 2 di kelas X IPS 2. Gadis cerdas yang mentalnya perlu diolah lagi agar potensi diri terpatri dan berdaya. Baginya saya itu seperti gorila kalau lagi marah. Namun mengasikkan dan bisa diajak kerja sama.

Ah loe JL, bisa aja kalee, kwkwk”. Inilah pengakuan jujurnya melalui secarik kertas evaluasi pada wali kelasnya.

“Pak Martinus wali kelas yang paling the best. Seumur-umur saya baru pertama ketemu wali kelas yang kaya gini”. “Entahlah kaya apa, hanya dia yang tahu, hehehe”.
JL si cerdas super heboh dan rekan
“Pak Martinus kocak de orangnya. Tapi kalau lagi marah, astaga kayak gorila. Seram benar. Bapak kalau ngajar juga enak. Tapi jangan galak-galak pak saya takut hahaha. Pak Martinus kalau ngajar santai saja biar lebih ganteng”,  kata JL. “Ah boca bisa aja loe”.

Lain JL, lain lagi dengan Boby, si calon orator masa depan. Saya ingin menulis profilnya, ulasannya tentu tidak jauh dari retorika. Pria tampan ini punya dasar retorika yang baik. Tapi lagi-lagi saya harus kecewa dengan ulahnya soal debat, tapi tak mengapa dia masih kelas sepuluh dan selalu punya kesempatan untuk menjadi lebih baik. Teknik berbicaranya saat presentase buatku kagum. Belum sempurna memang, tetapi saya tahu pada diri remaja ini ada potensi tersembunyi. Namun lagi-lagi mental menjadi persoalan. Semoga dia bisa memperbaiki masalah mental ini, harapku. Ini kata Bobby soal saya,
Bobby, si orator

“Saat pertama kali bertemu dengan sekarang sunggu jauh berbeda, sifatnya memang asik dari dulu, tetapi belakangan ini jadi tegas, tapi tetap fun; enak diajak bercanda, thx babe untuk semua kesenangan, seru tapi tetap jalankan tugas. Pesan: pak ampun pa yang sosio”

“Ah loe Bobby ga kerjain tugas sosio, lihat aja loe, hehehe”

Kalau yang ini lain evaluasinya, sengaja tidak diberi nama. Tak apalah saya yang memintanya. Tetapi dari gaya menulis sepertinya sang penulis bernama Merlyn. Hehe hanya menerka.
Merlyn, sang sastrawan dan rekan

“Mungkin bapak punya cara tersendiri dalam menghadapi dan menangani siswa. Sebagai wali kelas tidak ada masalah yang besar untuk dievaluasi. Namun terkadang cara bapak memperlakukan satu anak dengan anak yang lain berbeda jadi terkesan tidak adil”.

Oh..uw, siapapun dirimu, maafkan saya nak, tidak ada maksud apapun untuk membedakan kalian satu dengan yang lain. Namun terkadang sebagai manusia hal itu bisa saja terjadi.

Sebuah refleksi untuk guru bangsa dimana saja mengabdi, terkadang niat yang baik saja tidak cukup untuk membuat siswa memahami maksud guru; butuh komunikasi yang intensif, ya namanya juga remaja bapak dan ibu guru.

Apakah komunikasi saja cukup?. Jawabanya TIDAK. Mengapa?, jawabanya panjang mungkin lain waktu saya menulisnya. Tetapi yang bisa kita lakukan adalah memakai hati untuk memahami remaja abad 21. ITU PENTING, jika bapak dan ibu ingin kelasnya menjadi tertib dan teratur. Memang si, ada cara-cara lama seperti memakai otoriter gaya Adolof Hilter, tetapi itu menurut saya bukanlah cara yang efektif.

Lanjut ya,

Hellen si Cerdas
Ini namanya Hellen, sejatinya jujur saya harus akui darah manis ini adalah pribadi yang sopan, cerdas, dan bertanggung jawab. Tetapi namanya juga remaja selalu menghadirkan sejuta pesona, selengkapnya tentang Hellen bisa baca di sini, 

Meihara, sang penulis dan rekan
Mau tahu anak dengan reputasi menulis terbaik di SMA Kanaan tahun 2017?. Inilah dia salah satunya, namanya Meihara, gadis pendiam, fokus, dan pemikir ini memiliki potensi menulis yang baik. Dari mana tahu kalau Meihara atau gadis ini memiliki kemampuan yang baik dalam menulis. Bapak ibu atau pembaca terkasih mungkin pernah mendengar konsep menulis dengan piramida terbalik. Konsep yang sama saya terapkan di kelas X IPS 2 saat jam pelajaran Bahasa Indonesia; dan gadis ini memiliki aktualisasi isi dan konsep cukup baik. Artinya bahwa dalam diri gadis yang sering bepergian ke luar negeri ini ada potensi menulis yang harus di kembangkan lagi.

Kuncup dan pembaca terkasih sepertinya sudah panjang ulasan yang tidak bertepi ini, apalagi pesan yang bisa dijadikan pedomaan hidup. Namun satu hal yang pasti anak-anak; pintar saja tidak cukup untuk menjadi pribadi yang dicintai, milikilah hati seorang pelayan. Lalu lengkapi dengan pola hidup sehat maka selanjutnya, pergi dan taklukan dunia. 

@bersambung. 

Ada sebuah mata uang yang selalu berlaku di setiap masa dan itu adalah ilmu dan keterampilan. Jika anda tidak memiliki keduanya maka anda tidak membeli apapun. Siapkan dirimu dengan intlektualitas, suara hati yang berarti, dan raga yang potensial dan songsonglah masa depan cerah.
 
Si guru kampung



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rela Belajar Gila Demi 3'O"

Posting Komentar

Tinggalkan kesan bahwa anda pernah singgah, walau hanya sesaat.