Dua Aspek Penilaian Afektif dan Keterampilan

Kurikulum 2013
Untuk apa sekolah?, Pertanyaan ini saya tanyakan pada sidang pembaca terkasih karena hal ini mengganggu saya. Kebijakan kurikulum 2013 baik secara teori; tetapi dalam prakteknya anak-anak murid kelelahan menghadapi setumpuk tugas dan pekerjaan rumah yang kian hari kian menumpuk. 1 hari sekitar 3 mata pelajaran, jika semuanya memberi tugas sedangkan pulang sekolah sekitar 02.15 WIB. Katakan waktu tercepat bagi siswa-siswi sampai di rumah pukul 15.00 WIB maka pertanyaan saya, kapan waktu bagi siswa-siswi mengerjakan tugas?.

Saya menulis artikel ini tidak bermaksud menjadi hakim bagi siapapun, terutama para guru; karena saya pun seorang guru maka saya mengetahui dengan pasti kebijakan dan tuntutan kurikulum 2013. Tetapi apakah siswa dan orang tua mengerti hal ini. Sulit untuk katakana ya dan tidaknya. Dilematis memang, hanya kebijakan dan kepandaian seorang guru dalam mensiasati situasilah yang membuat nilai dari setiap KD terakomodir dengan baik.

Berikut ini saya bagikan cara saya mengambil nilai afektif dan keterampilan, versi saya tentunya.


Pengambilan Nilai Afektif

Apa itu afektif?

Sederhananya afektif yaitu sikap, minat, emosi, dan cara siswa menyelesikan sebuah permasalahan. Terkait hal itu, cara saya mengambil nilai adalah dengan meminta siswa-siswi mempublish tulisan ke media sosialnya masing-masing. Harapannya ada komentar balik dari yang membaca pada kolom komentar blognya masing-masing, minimal 7 komentar (ketentuan saya).
Di sini saya ingin mengajari siswa-siswi saya bahwa sebagai makluk sosial manusia saling membutuhkan satu sama lain.
Baca juga: 
Rela Belajar Gila Demi Olah Otak, Olah Hati dan Olah Raga

Jika siswa-siswi yang bersangkutan tidak memiliki keberanian untuk bergaul bersama orang lain (baca: siswa lain) maka pasti tugas ini tidak terpenuhi karena kurangnya sosialisasi tersebut. Selain faktor malas dan tidak mampu menulis.

Mengapa ini menjadi indikator penilaian saya?. Jawabanya adalah fenomena gadjet di zaman now. Menurut hemat sayafenomena gadjet dalam kelas telah sampai pada gejala keautisan sosial. Hal ini bukan harus dihentikan tetapi mari kita sikapi dengan cara yang bijak. Apakah cara saya bijak?, saya kira tidak juga. Tetapi yang penting adalah remaja milenial diingatkan lagi bahwa kehidupan tidak hanya sebatas dunia maya tetapi ada juga di dunia nyata. Hal seperti ini akan berlanjut selama beberapa kali dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda.


Pengambilan Nilai Keterampilan
Teori tanpa praktek adalah kosong, tidak bermakna. Itu pandangan saya dalam mengemas pelajaran. Bicara teori di zaman digital seperti ini semua telah tersedia di internet, tanpa gurupun siswa bisa tahu. Itu pemikiran saya.
Jadi yang dibutuhkan oleh siswa dari gurunya apa?

Mempersiapkan siswa-siswi untuk bisa melakukan sesuatu yang berguna sebagai bekal hidup di masa mendatang. Setiap guru tentu dengan caranya masing-masing dalam menyikapi hal ini. Saya sebagai guru bahasa Indonesia pun berkewajiban mempersiapkan generasi penerus ini dengan keahlian yang menunjang masa depannya; melalui 4 aspek keterampilan berbahasa. Satu diantaranya adalah menulis.  

Menulis menjadi penting karena siswa-siswi SMA pasti akan bertemu dengan yang namanya skripsi saat perguruan tinggi nanti. Oleh karena itu, mempersiapkan mereka sejak dini melalui latihan-latihan menulis sangatlah penting untuk dilakukan.

Aspek yang saya nilai dalam keterampilan menulis apa saja?. Ada beragam, tetapi untuk tugas tulisan terbaik versi siswa; saya hanya menentukan dua aspek penilaian.
Pertama tulisan yang dibagikan harus mengandung unsur manfaat bagi pembaca. Kedua inspiratif, artinya setelah orang membaca tulisan tersebut  muncul ide kreatif baru untuk menciptakan karya-karya inovatif yang lain. (Admin Gubanesia)


Itulah dua aspek penilaian saya untuk karya literasi siswa-siswi SMA Kanaan Jakarta, tempat saya mengabdi. Hanya berbagi barang kali bisa berarti bagi sesama guru bangsa dimana saja mengabdi.


Tulisan yang Direkomendasikan:



Ayo Belajar Karya Ilmiah

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dua Aspek Penilaian Afektif dan Keterampilan"

Posting Komentar

Tinggalkan kesan bahwa anda pernah singgah, walau hanya sesaat.