PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS BLOG

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS BLOG


Tahun 2015, SMA Kanaan Jakarta menjadi satu dari sekian sekolah di DKI Jakarta yang menerapkan kurikulum 2013 sehingga sekolah mengeluarkan kebijakan yang memperbolehkan siswa membawa HP ke sekolah. Dengan didukung oleh fasilitas Wi-Fi yang cukup memadai maka kesempatan untuk mewujudkan pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis blogpun saya terapkan. Langkah pertama saya mengajari anak cara membuat blog melalui platform blog gratis, baik blogspot maupun wordpress, siswa bebas memilih platform blog yang disukai. 

Rupanya tidak semudah yang saya bayangkan, berbagai kesulitan datang. Kesulitan-kesulitan tersebut antara lain:

1.   Kekonsistenan guru dalam membimbing siswa, dalam hal ini saya sebagai penggagas tidak konsisten mengakomodir siswa-siswi yang ingin membuat blog atau yang saya suruh buat blog. Selain itu tidak cukup waktu untuk membangun komunikasi dengan siswa, sebab dengan cara ini seorang guru harus merelakan beberapa jam waktu berharganya bersama keluarga untuk membimbing siswa-siswi secara online di luar jam sekolah. Fase ini ruang dan waktu tidak membatasi siswa untuk berinteraksi dengan guru, pembelajaran pun tidak sebatas guru ataupun dalam kelas. Itulah kendalanya. Waktu bersama keluarga di luar jam sekolah diambil untuk membangun komunikasi secara online. Rupanya hal ini menjadi kendala terbesar bagi saya di awal pelaksanaan ide ini.

2.   Minimnya pemahaman dan kemampuan sebagian siswa dalam hal menulis. Ini kendala kedua yang saya hadapi sebab bicara blog berarti konten yang dibahas, untuk menghasilkan konten yang baik maka seorang siswa harus memiliki keterampilan menulis.

3.   Kurangnya pengetahuan saya tentang dunia bloging, seperti cara mengganti template, menambahkan widget, dan seluk beluk blog yang belum saya ketahui secara pasti. Kendala ini saya hadapi sebab ide awal membangun blog hingga blog utama gubanesia hadir hanya bermodalkan tutorial yang bertebaran di internet tentang cara membuat blog. Sehingga saat ditanya hal-hal lain yang belum saya kuasai tentang blog oleh siswa saya tidak bisa menjawab. Akhirnya kepercayaan siswa terhadap saya perlahan-lahan sirna.

Hal-hal tersebut menyebabkan ide pembelajaran berbasis blog vakum cukup lama. Saat vakum tersebut saya coba menganalisis kelemahan dan keunggulan, juga daya dukung untuk membangun ide pembelajaran berbasis blog. Pantang menyerah, saya memulai kembali dengan angkatan yang baru ditahun ajaran 2015 (saat itu kelas 10 sekarang kelas 12).

Tahun ajaran baru, 2015/2016. Pada awal tahun, saya meminta pihak sekolah untuk mendatangkan seorang blogger profesional untuk mengajari siswa-siswi tentang blog. Setelah berdiskusi dan saya menjelaskan maksud dan tujuan akhirnya disetujui oleh pimpinan. Seorang blogger professional didatangkan di SMA Kanaan Jakarta. Yang diajarkan bukan seluruh siswa-siswi SMA Kanaan Jakarta tetapi siswa-siswi yang tergabung di ekskul jurnalistik. Kebetulan saya pembina ekskul tersebut sehingga mudah dalam mengakomodir siswa. Sekitar 4 kali pertemuan tentang dasar-dasar blog rasanya sudah bisa diterima oleh siswa milenial.

Langkah selanjutnya melalui 12 anak jurnalistik, saya minta mereka menjadi tutor sebaya, sekaligus membantu saya mengajari tentang seluk beluk blog pada siswa-siswi yang lain. Proses seperti ini terus berjalan sampai saat ini, diskusi dan pembelajaran kami melalui grup line pada setiap kelas. Link dari blog yang dibuat harus memakai nama siswa, demikian juga dengan nama blognya. Hal ini bertujuan untuk memudahkan saya dalam memeriksa pekerjaan siswa secara online melalui blog utama.

Caranya bagimana?

Blog-blog dari siswa-siswi saya kelompokkan menurut kelasnya masing-masing. Kemudian saya tautkan ke blog utama milik saya, namanya kuncup blog. Sedangkan www.gubanesia.com hanya berisi materi yang akan diajarkan kepada siswa. Kesimpulannya kendala tentang blog bisa diatasi.

Selanjutnya kendala kedua soal menulis. Ini adalah tugas saya sebagai guru bahasa Indonesia. Tidak ada teori yang muluk-muluk untuk diberikan, saya cuma meminta siswa untuk meringkas kembali materi yang saya ajarkan dan dimasukan ke dalam blog, bagian halaman about me atau halaman tentang saya dalam blog, saya minta siswa yang bersangkutan untuk menulis profilnya sendiri; tujuannya untuk mengenal siswa itu lebih baik. Selain itu, saya pun mempublish latihan soal, maupun tugas-tugas tentang Bahasa Indonesia lengkap dengan kriteria penilaiannya untuk dikerjakan di blog masing-masing. Selanjutnya hasil penilaian akan saya umumkan via blog utama milik saya. Jika ada siswa-siswi yang tidak mencapai KKM maka harus memperbaiki disertai dengan hukuman (yang disepakati bersama), yaitu meringkas salah satu mata pelajaran.

Hukuman tentang meringkas pelajaran ini secara perlahan saya jelaskan kepada siswa, maksudnya adalah agar dapat membiasakan siswa yang bersangkutan untuk menulis. Manfaat praktisnya apabila guru menyampaikan ulangan tentang topik tertentu pada hari Jumat dan hari Senin sudah harus ujian; sementara Sabtu dan Minggu libur untuk waktu siswa bersama keluarga, misalnya berwisata ke Puncak atau berekreasi ke Ancol. Maka dengan adanya hukuman tersebut, siswa-siswi yang bersangkutan tidak perlu harus membawa buku, cukup membuka blognya dan mempelajari kembali tulisan-tulisan yang diringkas, entah itu pada saat dalam perjalanan atau di saat waktu senggang. Sampai pada taraf ini maka waktu bersama keluarga dapat terakomodir dengan baik, serta tugas dan tanggung jawab sebagai pelajar teratasi.

Hal-hal seperti inilah yang terus saya berikan pengertian dan motivasi kepada siswa untuk tidak memandang seberapa berat hukumannya, melainkan untuk melihat manfaatnya. Dengan harapan besar, bukan hukuman yang membuat siswa itu menulis melainkan kesadaran akan manfaat yang diterima.

Selanjutnya, masalah waktu koreksi dan konsultasi. Bersama siswa kami sepakati, dengan satu pemikiran bahwa Sabtu dan Minggu adalah waktu bersama keluarga tetapi ada tugas dan tanggung jawab yang harus diselesaikan. Maka komitmen kami adalah setiap hari sabtu pagi pukul 08.00 – 10.00 WIB adalah waktu saya mempublish nilai siswa dan mengoreksi pekerjaan siswa secara online (jika ada). Oleh karena itu, siswa-siswi yang tugasnya akan dikoreksi oleh saya dijam yang telah disepakati harus online; untuk sekedar melihat nilai atau memperbaiki koreksian. Lewat dari jam tersebut tidak dilayani sebab itu adalah waktu untuk siswa dan saya sebagai guru bersama keluarga. Awalnya memang sulit tetapi jika guru mampu mengajak siswa untuk bertanggung jawab dan disiplin hal ini sangat mengasikkan.

Lantas pertanyaannya jika demikian, apa yang dilakukan saat pelajaran Bahasa Indonesia di kelas?. Jika 2 jam pelajaran, biasanya 1 jam saya gunakan untuk menjelaskan kembali materi yang telah saya tulis di blog utama dari KD yang diajarkan hari itu. Satu jam lagi saya memanggil siswa satu persatu untuk menggobrol. Apa yang diobrolkan? Topiknya bebas. Intinya, saya berusaha untuk dekat dengan siswa dan terus membangun komunikasi sebab harus diakui konsep pembelajaran seperti ini akan berhasil jika guru bisa menjaga komitmen dan bisa memotivasi siswa. Selain itu, siswa-siswi harus memiliki rasa tanggung jawab dan disiplin tingkat tinggi sebab antara guru dan siswa dibatasi oleh ruang yang berbeda; sehingga 1 jam tersebutlah waktu bagi saya untuk membangun kembali motivasi siswa, menanamkan arti disiplin dan menumbuhkan rasa tanggung jawab.

Apa yang saya bagikan ini, sampai dengan saat saya menulis artikel ini masih dijalani. Kendala tentu ada, tetapi kemauan dari siswa-siswi untuk bersama-sama menjalani ide inilah yang membuat saya mampu menjalaninya dan bertahan sampai saat ini.

Kesimpulannya tidak ada siswa-siswi yang sulit untuk diajak bekerja sama dalam menciptakan ide kreatif di era digital; sebab siswa – siswi milenial sangat kreatif. Hanya perlu mengambil satu langkah untuk mengenal siswa lebih dekat untuk tahu banyak hal tentang mereka. Jika sudah mengenal siswa dengan baik, maka apapun konsep seorang guru termasuk inovasi-inovasi dalam menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan pasti akan berhasil. Kualitas murid adalah gambaran kemampuan seorang guru.    
  

LANDASAN TEORI

Siapa sih generasi milenial? Generasi milenial adalah generasi yang lahir pada kisaran tahun 1980 – 2000 an. Kadang disebut juga dengan generasi Y. Jadi siswa milenial yang saya maksudkan dalam tulisan ini adalah mereka yang lahir mulai dari tahun 2000 hingga 2017. Kelompok ini lahir saat internet sudah diperkenalkan sehingga generasi milenial mahir dalam teknologi. Oleh karena itu, untuk memahami cara belajar siswa milenial seorang guru dituntut oleh zaman untuk mengemas pelajaran yang dekat dengan dunia anak zaman sekarang. Itu adalah kesimpulan dari pergumulan saya menerapkan pembelajaran berbasis blog di SMA Kanaan Jakarta. Internet yang terkoneksi melalui sosial media dan platform blog gratis menjadi jawaban saya dalam mengatasi tantangan mengajar di era digitalisasi. Semangat tersebut dilandasi oleh pemikiran Khoe Yao Tung dalam bukunya Pendidikan dan Riset di Internet yang dikutip kembali oleh Herman J. P Maryanto dalam bukunya yang berjudul Guruku Matahariku (hlm, 30). Internet memiliki kontribusi signifikan dalam pelajaran di sekolah, diantaranya:

1. Sebagai sarana interaktif yang didukung oleh basis   data yang sangat banyak dan lengkap.

2. Memungkinkan siswa untuk belajar jarak jauh       sehingga kendala ruang dan waktu dapat tereliminasi.

3. Memungkinkan siswa untuk belajar dengan gayanya   sendiri.

4. Dengan karakteristik internet synchronous dan asynchronous communication memungkinkan siswa untuk belajar sesuai dengan kecepatannya.

5. Siswa belajar tidak terbatas pada satu saja, yakni gurunya melainkan dimungkinkan untuk dapat memperoleh informasi langsung dari ahlinya. 

Apa itu blog?. Sebenarnya saya tidak ingin mengulas hal ini, sebab tulisan dengan topik blog banyak bertebaran di internet yang ditulis oleh para blogger profesional. Tetapi rasanya hambar jika membahas topik blog tanpa menyinggung sedikit secara teoritis apa itu blog. Sederhananya blog bagi saya adalah buku catatan elektronik yang dibuat oleh seseorang. Isinya bukan hanya tulisan semata, bisa foto atau video tergantung selera pemilik blog. Dari sekian banyak manfaat yang ditawarkan blog, apakah masih ada alasan bagi seorang guru untuk tidak menggauli kebaruan teknologi ini?

Pengen sih tetapi tidak tahu cara membuat blog, Pak”.

Ada banyak sekali tutorial cara membuat blog di internet, salah satu yang bisa saya rekomendasikan untuk guru bangsa sekalian adalah www.sugeng.id  seorang blogger profesional yang membahas tentang blog dari awal sampai akhir menggunakan bahasa yang lugas dan mudah untuk dipahami oleh orang awam sekalipun.


BACA JUGA:



PENUTUP

Pembaca yang terkasih, berdasarkan uraian terdahulu maka dapat saya simpulkan:

1. Dimana saja seorang guru mengabdikan ilmu dan pengetahuannya pasti selalu ada masalah karena yang dihadapi adalah pemuda-pemudi yang masih mencari identitas diri. Tetapi sebagai seorang yang dewasa dan guru profesional yang telah dibekali dengan metode mengajar dan pendekatan yang baik kepada siswa, masalah bisa jadi solusi, tantangan bisa jadi peluang. Dengan syarat, mau berusaha dan mau belajar menerima perkembangan teknologi.

2. Perkembangan zaman yang beriringan dengan maraknya teknologi canggih hadir merambah semua aspek, termasuk dunia pendidikan. Dunia pendidikan akan berhasil mencerdaskan generasi penerus bangsa apabila terbuka dan mau mempelajari hal-hal baru yang disediakan zaman yang terus berkembang.

3. Blog adalah salah satu solusi alternatif pembelajaran era digital karena siswa-siswi yang dihadapi adalah generasi milenial yang sangat fasih menggunakan internet. Blog adalah bagian dari ratusan aplikasi yang disediakan oleh blogger.com untuk membagikan tulisan (bahan ajar, tugas kepada siswa maupun perolehan nilai), termasuk foto atau video tutorial secara online.

4. Blog bukanlah sesuatu yang baru, sudah banyak blogger professional yang dengan rela membagikan tutorial gratis cara membuat blog kepada siapapun. Satu yang saya rekomendasikan untuk calon guru blogger adalah www.sugeng.id. Melalui blog guru bisa menuliskan materi pelajaran, membagikan tugas-tugas sekolah hingga menginput laporan nilai siswa, kemudian dibagikan melalui grup line atau whatsapp. Pada taraf ini ruang dan waktu tidak lagi menjadi kendala bagi guru dan murid untuk belajar. Bukankah ini sesuatu yang sangat menggembirakan bagi dunia pendidikan kita saat ini?

5. Melalui blog, guru bisa melatih diri untuk terus menulis dan menumbuhkan rasa cinta akan literasi kepada peserta didiknya.

6. Blog menjadi pilihan utama saya dalam menjawab tantangan mengajar di era digitalisasi.   

***

Baca juga:

Guru Bloger

Untuk kita renungkan


Tahun 1945 kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang dibom oleh sekutu. Saat itu Jepang berada pada situasi yang sangatlah sulit. Kaisar Hirohito tidak bertanya prajurit yang tersisah berapa, yang ditanyakan adalah GURU YANG TERSIASAH BERAPA?. Ditangan gurulah Jepang menjelma menjadi salah satu negara maju di asia bahkan dunia. Semantara di tahun yang sama, (1945) Indonesia mengumumkan kemerdekaannya sebagai negara yang berdaulat. Namun miris, sampai dengan saat ini negara kita tercinta masih dijuluki negara berkembang, bukan negara maju. Apa yang salah?

Bahkan lebih miris lagi, jika seorang pendidik masih mengklaim “anak-anak zaman sekarang susah diatur”. Melalui pengalaman saya di atas saya ingin meyakinkan rekan guru sekalian bahwa tidak ada anak yang sulit; yang ada hanya guru dan orang tua yang kesulitan mendidik anak. * (Admin Gubanesia)

Baca juga:








Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS BLOG"

Posting Komentar

Tinggalkan kesan bahwa anda pernah singgah, walau hanya sesaat.