Catatan Wali Kelas Kepada Orang Tua Murid Kelas XI IPS 2 SMA Kanaan Jakarta

Catatan Wali Kelas Kepada Orang Tua Murid Kelas XI IPS 2 SMA Kanaan Jakarta
Kelas X IPS 1/dokumentasi pribadi

Syallom bapak dan ibu orang tua wali kelas XI IPS 2, SMA Kristen Kanaan Jakarta yang terkasih. 

Tidak terasa kini putra dan putri bapak ibu yang dipercayakan kepada kami sudah berada di kelas XI. Satu semester sudah kami lalui. Saya sebagai guru, wali kelas, teman, dan sahabat yang menemani tumbuh kembang mereka memiliki banyak kisah bersama putra-putri bapak ibu yang hebat. Ada cerita haru, bangga, dan sederet kisah lain selama satu semester. 

Berikut ini catatan saya bersama 23 anak di kelas XI IPS 2 selama 1 semester.

Kenaikan Kelas yang Tidak Diinginkan

Saat kelas X, saya pernah menjadi wali kelas di kelas X IPS 2. Saat memasuki kelas tersebut, inspirasi selalu hadir. Melalui tingkah kumpulan remaja metropolitan di kelas tersebut saya mengerti 1 hal. Solid, hanyalah kata; kata tersebut, akan berarti jika semua anggota mau melaksanakannya untuk kebaikan bersama. Di kelas X IPS 2 milik pribadi menjadi milik bersama, mungkin seperti itu gambarannya. Sangat kompak dan persaudaraannya sangat kental.

            Saat kenaikan kelas, sebagian besar anak-anak kelas X IPS 2 gusar hatinya karena kelasnya dirolling.

“bapake benaran tu kelasnya dirollling?”.“ya ella pak, gue uda nyaman, ga mau dirolling lagi”. Gimana ne pak?.“Ampun!, napa si pak kelasnya harus diubah lagi”?  “hore wali kelas gue pak Martinus”.“iddh, gue ga mau belajar lho pak, kalau kelasnya pisah”.

Itu adalah komentar para siswa kelas X IPS 2 via grup line kelas saat kenaikan kelas.
Sebagai guru, tugas saya meyakinkan anak-anak ini bahwa proses seperti ini biasa dan mereka harus siap menghadapi kenyatan-kenyataan seperti ini. 

Inilah kesempatan saya mendoktrin anak bahwa dalam kehidupan nyata selalu ada harapan yang tidak sesuai kenyataan, dalam bisnis, keluarga, maupun komunitas. Terkadang yang diinginkan A tetapi yang hadir B atau C. Hal-hal seperti inilah roh pengajaran saya saat itu.

Usaha yang saya lakukan tidak melulu bicara, tetapi saya menulis. Inilah tulisan saya untuk menenangkan siswa-siswi saat itu. 

Baca:

 3 Manfaat Memiliki Wali Kelas Baru dan Teman Baru.

Setelah meyakinkan anak, jangan biarkan dia berjalan sendiri untuk meraih impiannya. Temani, beri semangat, dan angkat bila ia terjatuh.
Itulah konsep saya saat itu, dan Puji Tuhan semuanya baik-baik saja hingga hari ini. Nakal wajar, tetapi semuanya bisa dikendalikan. Hal ini terjadi bukan karena kehebatan saya tetapi dukungan dari bapak dan ibu sekalian di rumah. Terima kasih atas kerja samanya.

Tantangan Seorang Wali Kelas XI IPS 2

Menjadi wali kelas XI IPS 2, jadi tantangan yang sebenarnya dalam mendidik generasi milenial.
“Pak emang mereka nakal?”,
“Bandel bangat ya pak?”,
“Malas belajar ya…..”
Jawabanya tidak dan bukan itu personalannya. Lantas masalahnya apa pak Martin?.
Jawaban yang sebenarnya adalah ego. Ini masalah yang cukup serius di kelas XI IPS 2 di awal-awal semester.

Maksudnya pak?

Maksudnya adalah siswa-siswi kelas XI IPS 2 saat ini, awalnya berbeda kelas waktu di kelas X dulu. Karena kelas yang berbeda, maka pola pendidikan karakter pun berbeda yang diterapkan oleh setiap wali kelas. Sebenarnya dasarnya sama yakni setiap anak berharga, sesuai dengan visi dan misi sekolah. Namun beda gaya wali kelas dalam mentransefer hal tersebutlah yang menjadikannya berbeda juga cara anak berpikir.

Akhirnya yang timbul secara samar-samar dalam pandangan saya sebagai wali kelas mereka yang baru adalah kelompok kelas X IPS 1 dan kelompok kelas X IPS 2. Sedangkan faktanya mereka kini 1 kelas. Idealnya harus bersatu, tetapi ternayata menyatukan mereka tidak semudah itu bapak dan ibu sekalian.

Apakah sekarang pak Martin bisa menyatukan mereka?

Jawabanya bisa.

Caranya seperti apa?

Tidak ada cara yang spesial, hanya trik kecil yang sengaja saya buat untuk “memaksa” anak berpikir.

Saya mulai membuka cara mereka berpikir dengan ilustrasi.
Apakah kaki bisa merasa paling hebat karena bisa mengantarkan anggota tubuh yang lain?. Lantas mata akan menjawab, “eh kamu bisa sampai ke tempat tujuan karena saya yang melihat jika tidak kamu akan terantuk dan jatuh”.

Jika semua anggota tubuh berpikir dirinyalah yang paling hebat maka tidak akan ada kerja sama dan keharmonisan.

Dampaknya apa dalam hidup?.

Saya mengajak anak-anak untuk berpikir tentang hal itu. Mereka nanti dan pasti berkeluarga, jika suami berpikir dia yang paling hebat karena mencari duit maka hancurlah keluarga itu. Atau seorang istri berpikir “saya yang mengatur dalam rumah tangga”. Maka tidak ada keharmonisan. Mungkin pada tingkat yang paling parah anak akan berpikir, ‘tanpa kalian juga gue bisa hidup’.

Inilah yang tidak boleh terjadi.

Konsepnya diubah, semuanya saling membutuhkan dan melengkapi, dan kita tim bukan individu.
Itulah yang saya tanamankan hari demi hari pada putra-putri bapak dan ibu di kelas XI IPS 2. Kerja sama dan saling membutuhkan karena manusia adalah makluk sosial yang tidak bisa hidup seorang diri. Itulah roh dari pendidikan karakter yang saya tanamkan di kelas XI IPS 2 semester 1.
Catatan Wali Kelas Kepada Orang Tua Murid Kelas XI IPS 2 SMA Kanaan Jakarta
Kelas XI IPS 2/Dokumentasi pribadi

Hasilnya seperti apa? Baca lebih lanjut di bagian berikut ini.

Menikmati Hasil Didikan

Bapak dan ibu sekalian, seminggu sebelum penerimaan rapor; jujur saya sangat sibuk. Mengentri nilai, memastikan nilai-nilai yang belum tuntas dari siswa-siswi kelas XI agar dituntaskan; dan memastikan nilai-nilai siswa-siswi kelas XI IPS 2 yang belum mencapai KKM agar mencari guru yang bersangkutan dan menyelesaikannya. 

Ini sesunggunya pekerjaan yang cukup menyita waktu. Akhirnya saya lupa kalau ada kegiatan tecknoprener yang juga harus saya urus sebagai wali kelas. Dalam kebingungan saya menyampaikan perihal kegiatan yang dimaksudkan kepada anak didik saya di kelas XI IPS 2.

Bapak ibu tahu apa respon anak-anak. “beres bos, sante aja”, mendingan bapak kosentrasi dengan kerjaan bapak, seisi kelas menjawab kompak.
 Wah jujur ini membuat saya tambah panik. Karena yang namanya ABG, hari ini bilang A besok bisa jadi B. labil dan tidak konsisten itu presepsi saya. Saya coba tenang dan percaya kepada anak-anak. Walau sebenarnya saya tidak yakin, sebab sebagai wali kelas saya tidak diberitahu konsep kegiatannya seperti apa oleh mereka.
***
13 Desember 2017 hari pertama pameran. Dengan langkah yang ragu kumasuki lantai dasar Sekolah Kanaan dan menuju stand kelas XI IPS 2. Bapak ibu tahu perasaan saya saat itu?,

“saya begitu bangga dengan mereka”,
Bangga bukan karena mereka menjalankan kegiatan tersebut, tetapi saya bangga karena menyaksikan siswa-siswiku berbaur menjadi satu kelas, XI IPS 2, tanpa ada geng-geng atau kelompok-kelompok. Bangga karena mereka saling bahu-membahu, bangga karena menyaksikan seorang anak yang tidak pandai bergaul di kelas bisa berbaur dengan yang lain, dan lebih bangga lagi karena yang memimpinnya adalah anak yang tidak begitu percaya diri namun bisa berjalan. Support begitu nyata dari teman-temannya. Apakah ini suatu keajaiban ataukah mereka memahami nasehat saya, entalah tetapi ini sesuatu yang baik.

Oh ya, mungkin stand kelas mereka (XI IPS 2) tidak sehebat yang lain. Tetapi yang membuat saya bangga karena mereka bisa menyatukan presepsi yang berbeda dari 23 anak menjadi 1 tim dan bekerja secara tim itu yang hebat. Bagus ukurannya bukan di sekolah tetapi di dunia kerja, yang penting di sini mereka berproses untuk menjadi pribadi yang saling mendukung dan bekerja dalam tim. Selain itu, yang membuatku kagum pada mereka adalah ini murni ide mereka tanpa bantuan seorang guru. Artinya apa, mereka menunjukan suatu kata yang namanya mandiri. Thanks anak-anakku sekalian.

Rahasianya apa pak Martin hingga bisa seperti itu. Jawaban tidak ada. Saya hanya mendoakan mereka dan menulis hal yang saya pikirkan untuk mereka baca dan pahami sendiri.

Baca:

3 Cara yang Wajib Dijalani oleh Orang Tua dan GuruMenghadapi Kids Zaman Now


Kesimpulannya

1.    Menyatukan karakter setiap anak itu cukup sulit, tetapi jangan menyerah sebab perubahan pasti terjadi. Mungkin bukan hari ini atau besok, tetapi percayalah bahwa nasehat dan ajaran yang baik pasti dilakukan, namun butuh proses.

2.    Untuk orang tua wali murid, anak bapak dan ibu semuanya terus berproses untuk menjadi dewasa secara mental dan rohani. Yang mereka butuhkan dari kita adalah percaya kepada mereka dan terus mendampingi. Jangan  menyerah jika gagal.

3.    Sekedar berbagi bukan menggurui bapak ibu sekalian. Nasehat saja tidak cukup mendidik kids zaman now, mereka butuh nasehat yang memaksa mereka berpikir tentang hidup?. Jadi mari para guru dan orang tua, kita mendidik anak-anak untuk berpikir dan memutuskan bukan menyuruh atau memaksakan kehendak.(Admin Gubanesia)

Semoga Tuhan Memberkati bapak dan ibu sekalian.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Catatan Wali Kelas Kepada Orang Tua Murid Kelas XI IPS 2 SMA Kanaan Jakarta"

Posting Komentar

Tinggalkan kesan bahwa anda pernah singgah, walau hanya sesaat.