Biang Kerok di Sekolah dan Biang rusuh di kelas yang Jadi Juaranya. Itu Fakta! (bagian 2)

Biang Kerok di Sekolah dan Biang rusuh di kelas yang Jadi Juaranya. Itu Fakta! (bagian 2)
Saat bergaul dan mendengarkan keluh kesah anak-anak yang dilabeling "nakal" engkau akan tahu bahwa sebenarnya mereka tidak seperti itu.
Sumber foto: face book Martin Karakabu, admin dan penulis blog gubanesia

“Pa ada yang datang”, kata istri saya.

“Siapa?” tanya saya, sebab malam-malam begini jika ada yang datang pasti penting bangat, pikir saya saat itu.

“Murid bapak” kata istri saya.

Saya pun langsung bergegas menuju ruang tamu. Ternyata yang datang adalah tiga anak yang kutinggalkan dalam kebingungan di halaman sekolah sore tadi. Mereka yang saya pilih untuk mengikuti debat di SMA N II Jakarta Barat esok hari nanti.

“malam pak, maaf mengganggu bapak malam-malam” kata salah seorang diantara mereka.

“Oh tidak apa-apa silahkan masuk”, kata saya sambil mempersilakan ketiga tamuku itu.

“begini pak, kami berterima kasih atas kepercayaan bapak kepada kami” kata Gio, salah seorang diantara mereka. “sejujurnya kami tidak mengerti apa-apa tentang debat, tetapi kami akan mencoba buat yang terbaik” ujar Willy menambahkan. “jadi kami ke sini, meminta bapak untuk melatih kami”.

Sejujurnya saya ragu dengan mereka, karena sebagai gurunya saya cukup paham dengan karakter murid-muridku itu. Namun di sisi yang lain, kedatangan mereka sekitar jam sepuluh malam memberiku sedikit keyakinan bahwa anak-anak ini serius.

Akhirnya beberapa simulasi sederhana dan apa adanya pun saya jelaskan dan praktekan. Terutama fungsi pembicara pertama, kedua, dan ketiga. Setelah itu saya meminta mereka untuk coba praktekan. Hasilnya pun sama sekali nol. Ada yang lupa mau bicara apa karena gugup, ada juga yang bisa bicara tetapi melantur ke mana-mana alias lari dari topik yang diperdebatkan.

Meski mencoba untuk memahami karena penunjukan terkesan tiba-tiba. Tanpa bimbingan dan latihan serius dan sederet kekurangan lainnya. Namun kecewa itu pasti karena lombanya besok jam 08.00 WIB semantara kini jam sepuluh malam pembagian tugas saja tidak ada yang tahu.

Keputusan saya yang nekat mungkin hanya akan menjadi cibiran teman-teman di kantor. Akhirnya pasrah. Tidak ada harapan lagi pikir saya.

“ini sudah malam kalian harus pulang, besok jangan lupa kumpul di sekolah jam 7” kata saya. “Kalian boleh baca beberapa tulisan saya tentang debat di www.martinkarakabu.org, terutama cari tulisan yang berjudul contoh teks debat lengkap yang berjudulkebijakan pemerintah dalam menerapkan full day school, pelajari itu dan tulisan-tulisan tentang debat yang lain di blog itu” jelas saya seadanya saja.

Kemudian ketiga anak yang seperti jadi korban perjudian saya itu pun pulang. Sebelum pulang, saya masih ingat kata-kata Gio, salah seorang muridku mengatakan, “pak terima kasih sudah mempercayai kami”, ucapan yang sederhana dan seperti tanpa makna. Kemudian mereka berlalu.

***
“Bapak dimana? Sini buruan pak, Gio mereka masuk semi final” ujar salah seorang muridku yang jadi supporter saat itu via telepon genggam. “Ah serius?” kata saya. “adu pak buruan tidak ada waktu, ini hanya 15 menit, mereka butuh bapak”.

“Oke” kata saya. Kopi yang kupesan belum kuminum, kutinggalkan begitu saja, langkah seribu pun kujabani. Seketika dengan agak tergopa-gopa sampailah saya di hadapan murid-muridku yang spesial itu.

“Pak saya gugup sekali!” kata mereka nyaris bersamaan.

“mereka kalahkan Penabur dan tuan rumah di babak penyisian tadi” Michelle, muridku yang menjadi supporter saat itu menjelaskan.

“ini suatu keajapan” pikir saya saat itu. Namun sekarang kepercayaan diri anak-anak ini harus dibangun lagi sebab mereka kaget dengan apa yang mereka raih. Batin saya mengatakan seperti itu.

Akhirnya saya katakana kepada mereka. “terima kasih Gio, Wily, dan Denny. Kalian bertiga telah membuat saya bangga”.

Kubiarkan hening sejenak. Kemudian saya katakan, “Tuan rumah juara LDBI tingkat nasional sudah kalian kalahan, Penabur juara LDBI tingkat propinsi sudah kalian habiskan, siapa lagi yang lebih hebat kalau bukan kalian?”

“Sekarang pergi dan selesaikan, dan ambil pialanya”.

“Saya percaya kalian pasti bisa”. Kata-kata saya yang sederhana itu seperti cambuk bagi tiga bocah nakal itu. Sunggu mujizat apa, saya tidak paham karena semuanya seperti di luar dari akal sehat saya.

Gaya mereka berdebat seperti orang yang sudah berulang kali menjuarai debat tingkat nasional. Luar biasa. Sesuatu yang tidak biasa dan sekali lagi bahwa ini semua di luar dugaan saya sebelumnya.

Semi final, kemudian final. Akhirnya mereka juara dua.

“Pak piala ini kami persembahkan buat bapak karena hanya bapak yang percaya kalau kami bisa” kata Gio. Kemudian mereka memeluk saya sambil menangis.

“Maaf pak kami tidak bisa jadi yang terbaik, hanya juara dua”, kata Willy. Saya memeluk mereka dan menangis. Sunggu anak-anak ini luar biasa, kepercayaan yang diberikan seorang guru kepada siswanya ternyata sangat berdampak bagi kemajuan seorang murid. Hari itu saya belajar banyak hal, sesuatu yang tidak pernah saya peroleh di bangku kuliah. Terima kasih anak-anak telah mewarnai perjalanan saya sebagai guru.

Kalau pengalaman adalah guru terbaik maka menjadi guru adalah pengalaman terbaik. Hanya satu kuncinya anda harus percaya kepada muridmu dan beri mereka kesempatan untuk membuktikan diri. Martin Karakabu, seorang guru kampung yang sedang belajar menjadi pendidik di SMA Kanaan Jakarta Pusat. (Admin Gubanesia)


Catatan

ini adalah tulisan bersambung. Baca bagian satunya di sini, KLIK.
    
        


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Biang Kerok di Sekolah dan Biang rusuh di kelas yang Jadi Juaranya. Itu Fakta! (bagian 2)"

Posting Komentar

Tinggalkan kesan bahwa anda pernah singgah, walau hanya sesaat.