Canggihnya Hidup dalam Kesederhanaan: Catatan Refleksi Caterine

Canggihnya Hidup dalam Kesederhanaan: Catatan Refleksi Caterine pelajar SMA Kanaan Jakarta
Sanggar Karawitan di Desa Plono (tampak depan)/Dokumentasi pribadi

SMA Kanaan baru saja selesai menyelenggarakan salah satu kegiatan tahunan mereka, yaitu live-in anak kelas 11 yang dimulai dari tanggal 27 April 2018 hingga 2 Mei 2018 di Desa Plono Pagerharjo Samigaluh Kulon. Sebagai salah satu peserta live-in, ada banyak hal yang ingin saya bagikan selama hidup di tengah masyarakat desa, salah satunya adalah tentang kesederhanaan mereka.
Canggihnya Hidup dalam Kesederhanaan: Catatan Refleksi Caterine Pelajar SMA Kanaan Jakarta
Orang tua asuh yang sabar menunggu rombongan live in siswa-siswi SMA Kanaan Jakarta

Warga Desa Plono memang tidak hidup dalam ketertinggalan jaman. Berbagai infrastruktur dan fasilitas yang sudah maju membuat saya menarik kesimpulan demikian. Meski keseharian mereka belum semodern di kota, saya berhasil menemukan sesuatu yang luar biasa setelah hidup 4 hari bersama mereka.
            
Kesederhanaan itu canggih.
            
Canggihnya Hidup dalam Kesederhanaan: Catatan Refleksi Caterine Pelajar SMA Kanaan Jakarta
Karawitan implementasi budaya dalam kesederhanaan/Dokumentasi pribadi
Kesederhanaan tak butuh minyak sebagai bahan bakar untuk berjalan. Barisan warga berderet di sepanjang jalan menuju Gereja di hari kami akhirnya menginjakkan kaki di Desa Plono setelah 20 jam perjalanan. Senyum lebar menghiasi mulut mereka, sembari mereka menyapa dan menyalami kami dengan sukacita. Bukan beban yang nampak di wajah mereka, melainkan kegembiraan dan hati penuh debar ketika kami masuk ke rumahnya. Tak besar yang mereka sajikan pada kami, hanya segelas teh manis hangat setelah perjalanan yang panjang. Apakah itu menyurutkan semangat saya? Atau malah membuat saya terharu?
            
Berjalan kaki bolak-balik ke Pasar Samigaluh, melewati terjalnya medan, tak ada keluh kesah yang keluar dari mulut orang tua asuh saya, tetapi sapaan dan obrolan ringan lah yang ia lontarkan pada sekitar 20 orang yang berpapasan dengan kami. Mulai dari penjual buah, penjaga toko kelontong, penjual sayur, anak SD, penjaja kue, hingga ibu-ibu pasar yang tak sungkan merangkul. Banyak dari mereka yang mencoba mencari tahu tentang kegiatan live-in kami, tentang bagaimana kehidupan di Jakarta, sejauh apakah perbedaannya. Awalnya, saya pikir mereka akan memandang orang kota dengan setengah mata, sama seperti kebanyakan orang kota yang memandang rendah orang desa. Ternyata, mereka mengungkapkan bahwa mereka senang dengan kehadiran kami di sini dan berharap kami dapat mengunjungi mereka lagi setelah ini.

Kesederhanaan tak butuh gadget atau internet untuk berjalan. Namun, ia mampu menyatukan penduduk desa menjadi satu kesatuan yang solid. Jarak antara rumah yang berjauhan tidak menghentikan mereka membangun relasi kekerabatan. Antar pintu saling mengenal satu sama lain. Bertegur sapa, bertukar senyum, melambaikan tangan. Hubungan darah tak menjadi penentu keramahan di sini. Baik saudara, warga desa, warga kota, semuanya berbaur menjadi satu hati tanpa memandang latar belakang. 

Kesederhanaan tak butuh harta, kekayaan, maupun tahta untuk berjalan. Hidup di tengah multikulturalisme menjadi dorongan warga untuk mengembangkan sikap toleransi. Di sini Gereja Kristen, di sana berdiri Masjid, di ujung ada Gereja Katolik. Dengan begitu sederhananya, mereka saling mengasihi. Bagi mereka, agama dan budaya bukanlah alat untuk menyerang satu sama lain. Bagi mereka, agama dan budaya adalah berkat untuk membina kebersamaan. Bagi mereka, perpecahan di atas keberagaman itu kuno, sedangkan perdamaian dan kerukunan antar sesama itu lebih keren.

Sangatlah menginspirasi untuk mengetahui bagaimana sesuatu sepele seperti ‘kesederhanaan’ mampu berbuat banyak bagi manusia, lebih dari yang teknologi-teknologi mutakhir itu mampu lakukan. Sebuah garis tipis yang memisahkan desa dan kota ialah bahwa orang kota terlalu terpaku pada kesibukan mereka hingga seringkali mereka lupa untuk menikmati hal-hal kecil di sekitar mereka. Mereka selalu memperhatikan hal-hal rumit, lalu berusaha menyimpulkannya, tak sadar bahwa jawabannya jelas berada di depan mata. Isu-isu SARA terus diperdebatkan dari tahun ke tahun, namun tak kunjung juga sampai pada penyelesaian. Pernahkah mereka berpikir untuk belajar dari orang desa yang pola pikirnya sederhana tapi dalam?
            
Mengapa harus hidup dalam perselisihan, ketika Indonesia sudah merdeka?
            
Mengapa harus berseteru, ketika kita dapat hidup sambil bergandengan tangan?* Caterine (XI-MIPA)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Canggihnya Hidup dalam Kesederhanaan: Catatan Refleksi Caterine "

Posting Komentar

Tinggalkan kesan bahwa anda pernah singgah, walau hanya sesaat.