Catatan Perjalanan dan Perjumpaan Jakarta Jogja Oleh Jenifer Limsen


Catatan Perjalanan dan Perjumpaan Jakarta Jogja Oleh Jenifer Limsen
Situasi dalam bus yang mengantarkan rombongan live in SMA Kanaan Jakarta dari Jakarta menuju Jogja/dokumentasi pribadi 
Jumat, 27 April 2018. Hari dimana siswa-i kelas 11 SMAK Kanaan pergi untuk melakukan kegiatan live in di Desa Plono Pagerharjo Samigaluh Kulon Progo, Yogyakarta. Live ini berlangsung selama 5 hari (27 April 2018 – 2 Mei 2018). Kegiatan live ini akan menjadi suatu pelajaran untuk kami, untuk bisa belajar hidup mandiri dan sederhana.

Kegiatan live in ini mengajarkan aku banyak pengalaman hidup yang berharga. Dimulai dari perjalanan kami pada 27 April jam 7 malam. Hal yang pertama aku pikirkan dan rasakan saat menaiki bus tersebut adalah “duh gua gasabar banget buat nyampe desa itu”. Seneng dan penasaran. Kami menghabiskan waktu kurang lebih 21 jam di perjalanan.

21 jam itu dipotong dengan beberapa kali kami singgah di rest area. Aku sama sekali tidak meresahkan kenapa lama banget tidak sampe, karna selama perjalanan aku menghabiskan waktu untuk bermain di dalam bis dan tidur. Jadi 21 jam itu tidak terlalu terasa. 21 jam telah berlalu, saat sesampainya di sana, kami disambut dengan penuh suka cita oleh warga Desa Plono. Kami tiba kurang lebih jam 4 sore. Saat kami turun dari bus, kami langsung berjalan menuju Gereja Kristen Jawa yang letaknya kurang lebih 1 km dari titik kami turun dari bus untuk berkumpul bersama warga Desa Plono. Kami diberi waktu untuk makan dan minum yang sudah disediakan oleh warga Gereja. Sesudah dari itu, dilanjutkan dengan kata sambutan dan lain-lain.

Salah seorang warga desa mengatakan bahwa mereka sudah menunggu kehadiran kami dari jam 7 pagi, mereka bolak-balik Gereja hanya untuk menunggu kehadiran kami. Setia banget ya mereka hehe.

Lanjut ke sesi pembagian orang tua angkat yang ada disana. Satu keluarga ditempat tinggali 2/3 orang murid Kanaan. Aku kedapetan serumah bareng Hellen dan Vania. 

Aku tinggal dalam keluarga bersama ibu asuhku, ibu Mukinem. Di dalam satu rumah, ibu Mukinem tinggal bersama suaminya, adik ibu Mukinem dan anaknya. Ibu Mukinem tidak bekerja. Ibu mukinem sebagai ibu rumah tangga. Suami Ibu Mukinem bekerja sebagai buruh. Sore menjelang malam pun tiba, di rumah Ibu Mukinem aku mulai beres-beres dan setelah itu makan malam bersama keluarga Ibu Mukinem. Tapi pertama kali aku merasakan kesederhanaan dimana aku harus mandi dengan keadaan kamar mandi yang tidak sepenhnya tertutup. Malam hari aku juga terganggu dengan adanya suara jangkrik. Selepas dari itu, aku dan temanku beranjak untuk istirahat.
Catatan Perjalanan dan Perjumpaan Jakarta Jogja Oleh Jenifer Limsen
Jeniffer Limsen (Baju Hitam bergambar) bersama rekan dan keluarga orang tua asuh di plono Jogja

Minggu, 29 April 2018. “Sugeng Enjang mba jenny”, kalimat yang keluar dari mulut Ibu Mukinem saat aku membuka pintu kamarku. Hari itu aku dan Hellen pergi bersama adik Ibu Mukinem ke pasar untuk membeli jamu. Pulangnya, aku siap-siap untuk pergi ke Gereja untuk melakukan ibadah Minggu pagi. Sesampainya di Gereja, kami anggota paduan suara menyanyikan satu persembahan. Ada bagian yang mengajar sekolah Minggu, dan ada yang menyanyikan persembahan. Setelah melakukan ibadah Minggu pagi, kami melanjutkan aktifitas kami untuk pergi hiking. Ibunya bawain bekal enak loh hehehe. Kami hiking menggunakan truk. Seru banget pemandangannya bagusssss. Kami menghabiskan waktu di atas gunung kurang lebih 2-3 jam.

Setelah pulang dari hiking, kami diberikan waktu untuk beristirahat di rumah orang tua asuh masing-masing. Sorenya kami disuru berkumpul di Gereja untuk latihan acara malam perpisahan untuk keesoan harinya. Pulang dari latihan, dirumah kami menghabiskan waktu bersama keluarga Ibu Mukinem. Sekitar jam 10 malam, aku, Hellen dan Vania membantu ibunya menggoreng sayur. Setelah itu kami lanjut untuk beristirahat.

Senin, 30 April 2018. Diawali dengan kalimat yang membuat semangat, “Sugeng enjang mba Jenny sarapannya jangan lupa dimakan, sudah ibu buatkan”, kata Ibu Mukinem. Secangkir teh manis dan tempe goreng yang membuat pagiku lebih semangat untuk melakukan suatu aktifitas. Pagi itu adalah pagi dimana kami melakukan bakti sosial. Aku mengantarkan ibuku ke Gereja untuk mengambil sembako. Lalu setelah itu, kami melanjutkan aktifitas kami untuk melakukan gladi bersih untuk acara malam perpisahan di hari itu. Setelah melakukan gladi bersih, kami diberikan waktu untuk menonton pertunjukan karawitan. Waktu pun telah berlalu, tiba saatnya malam terakhir yaitu malam perpisahan. Malam perpisahan yang menunjukan banyak penampilan seperti penampilan drama dari anak-anak perwakilan setiap kelas dari sekolah kami, cup song dan tepuk beat, serta penampilan musik. Suasananya benar-benar hangat, warga disana sudah menganggap kita seperti keluarga mereka sendiri. Semua penampilan berjalan lancar, walau ada sedikit masalah kelas yang harus diselesaikan. Warga Desa Plono semua senang dan bersuka cita dengan adanya penampilan-penampilan tersebut. Malam perpisahan pun berakhir.

Selasa, 01 Mei 2018. Hari dimana kami berpisah dengan orang tua asuh kami. Kami diberikan waktu sampai jam 10 pagi untuk bersiap-siap pulang ke Jakarta. Ibu Mukinem memberikan kami oleh-oleh untuk kami bawa pulang ke Jakarta. Tidak lupa juga aku memberikan kenang-kenangan untuk keluarga Ibu Mukinem. Rasanya tak ingin waktu cepat berlalu. Sebelum aku pulang ke Jakarta, aku menanyakan banyak hal tentang Ibu Mukinem, lalu kami tukeran nomor telepon agar kami bisa saling komunikasi saat aku sudah samapi di Jakarta. Terlebih saat waktu detik-detik kami mau pulang ke Jakarta, tak tega rasanya meninggalkan mereka, ada anak-anak yang sampai menangis saat mau pulang. Orang tua angkat kita pun ikut menangis. Jam 10 pagi pun tiba, waktunya kami untuk pamit untuk pulang ke Jakarta. Berat hati rasanya untuk meninggalkan Ibu Mukinem. Tapi gapapa, karna kami masih bisa berkomunikasi. Perjalanan pun mulai berlanjut. Kami singgah ke salah satu tempat di Yogyakarta, Malioboro. Kami diberi waktu untuk menghabiskan waktu bersama di Malioboro. Kami belanja oleh-oleh dan lain-lain. Lalu setelah waktu habis, kami berkumpul kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan kami ke Jakarta.

Melalui pengalamanku di Desa Plono, aku menyadari bahwa betapa berharganya kebersamaan itu, dan betapa berharganya keluarga, keluarga yang saling menyayangi, dan saling menjaga satu sama lain. Aku merasa sangat bersyukur dengan apa yang aku miliki dan ada saat sekarang ini. Di Desa Plono, suatu pengalaman yang tak akan terlupakan sampai kapanpun.

“Suatu perjalanan memang melelahkan. Tapi ingat, Tuhan tidak memberi perjalanan yang melelahkan tanpa ada balasan keindahan”

“Hidup tak selalu sempurna. Yang terjadi tak selalu kita suka. Tetapi kita bisa selalu bahagia dengan cara mensyukuri segala sesuatu yang ada”

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Catatan Perjalanan dan Perjumpaan Jakarta Jogja Oleh Jenifer Limsen"

Posting Komentar

Tinggalkan kesan bahwa anda pernah singgah, walau hanya sesaat.