Daur Hidup Pohon : Refleksi Hidup dari Pengalaman dan Perjumpaan di Desa Plono Yogjakarta

Daur Hidup Pohon : Refleksi Hidup, Pengalaman dan Perjumpaan di Desa Plono Yogjakarta oleh Pelajar SMA Kanaan Jakarta
Dari Pasar Tradisional di Desa Plono Kami Belajar Arti Kesederhanaan dan Perjuangan / Dokumentasi Pribadi

Ada seorang anak remaja yang ingin belajar dari pelajaran hidup yang tidak didapat dari sekolah. Itulah aku, Jessica. Banyak makna yang tersimpan dalam pelajaran hidup. Jika diibaratkan, pelajaran hidup adalah buah-buah dalam satu pohon. Ada yang buah sudah matang dan rasanya manis, elok sekali saat di pandang, harum baunya sehingga banyak orang yang ingin memetik buah itu. Namun, ada juga buah yang tidak enak dipandang yang hanya memperburuk tampilan pohon itu dan baunya yang tidak sedap. Tetapi buah busuk itu juga menjadi pelengkap sebuah pohon. Bahwa ternyata, didalam hidupnya, pohon itu juga mengalami kegagalan saat memproduksi buah demi buah. Tetapi pohon itu akan berteriak bangga ketika buah itu menjadi buah matang. Karena buah itu akan diambil banyak orang, diperebutkan banyak orang dan berguna untuk banyak orang. 

Aku akan menceritakan tentang halaman lalu yang kutuliskan di kertas ini. Namun, aku tidak akan memulai cerita ini dengan kata “Pada suatu hari”, “Saat itu”, ataupun “Pada pagi/siang/malam hari,”. Tetapi, aku akan mengawali jalan cerita dengan kata “Aku”, “Dia”, “Kami” dan “Kita”. Karena aku akan menuliskan sedikit kata-kata tentang “Aku” dan diteruskan dengan kata “Dia” dan “Kami” yang berakhir dengan kata “Kita” sebagai bumbu pelengkap. Dan juga, aku akan memberikan buah matang dan buah busuk yang bisa dipetik dan kiranya bisa menjadi berkat untuk orang lain.

“AKU”. Aku memiliki pengalaman dan pengamalan. Kedua hal itu, sangat dekat dengan daur hidup. Kedua hal itu tidak bisa dipisahkan. Pengalaman yang berorientasi pada apa yang kulakukan kemarin. Sedangkan pengamalan berorientasi pada apa yang kulakukan hari ini. Pengalamanku dan pengamalanku saling berkaitan satu sama lain.  Dan apa yang sudah kupetik sebagai pengalamanku, akan tanamkan dalam pengamalanku hari ini.

“Apa pelajaran baik yang ditanam di kota, dilakukanlah juga di desa nanti.”, kata guruku. Di kota, aku diajarkan untuk bertindak sopan. Dan di desa, tindakan sopanku lebih diasah lagi, ditambah dengan cara bersosialisasi yang ku implementasikan di lingkungan desa tersebut. Alhasil, aku sudah mengubah banyak pengalaman menjadi sebuah pengamalan yang nantinya akan diubah lagi oleh daur hidup menjadi pengalaman. Memori yang terkenang sampai sekarang adalah ajaran sosial budaya di desa yang tidak kudapat di kota Jakarta ini.        

Aku sangat girang,tertawa yang tercampur haru isak tangis. Aku tinggal ditempat yang mungkin sangat sederhana ekonomi, namun kaya akan sosial budaya. Ruang per ruang hanya dibatasi kayu tipis dan bambu sebagai penyanggahnya.  Yang kulihat hanya ada satu warna, yaitu warna tawa dalam kesederhanaan. Mereka menyambutku dengan senyum lirih manis dan tawa kecil. Seorang anak balita menghampiriku dengan mengulurkan tangan yang akan menggandengku, mengajakku bermain. Dengan segala kekurangannya, Ia mencampurkan dunianya dan duniaku, imajinasinya dan imajinasiku untuk menciptakan tawa dalam kesederhaan. Mungkin ini yang membuatku sangat betah berlama-lama di rumah itu walaupun aku hanya melihat warna coklat yang membatasi ruang gelap itu.

 “DIA”. Aku memulai bab baru lagi. Kali ini, aku akan menceritakan tentang dia, keluarga yang miskin secara ekonomi, tapi kaya akan moral. Dia yang pertama kali kujelaskan adalah dia yang membuat mengajarkan makna hidup. Dia yang mengajarkan cara tertawa dalam kekurangan. Dia yang mengajarkan dan mendefinisikan apa arti kesempurnaan dalam kekurangan. Dia adalah seorang anak balita, kupikir. Namun ternyata umur dia sudah lewat dari balita. Aku akan mendeskripsikan sedikit tentang dia.

Dalam tiga hari dua malam di sana, aku banyak mengetahui tentang dia melalui Ibunya. Ternyata, dia memiliki beberapa kekurangan, yaitu dalam hal psikologisnya. Bagiku, dia adalah anak malang yang mendapat banyak penyertaan dan karunia dari Sang Pencipta. Semenjak beliau lahir ke dunia ini dan sampai sekarang selalu diberkati Sang Kasih. Dari semenjak dia lahir, dia memiliki kelainan pada kakinya. Lalu dilakukan perawatan yang intensif selama beberapa hari dan harus bolak-balik ke Solo untuk penggantian gips serta sepatu khusus untuknya. Yang seharusnya umur dua tahun, dia bisa bermain, tetapi dia hanya bisa berkutik pada kasur. Lemah, lesu dan keinginannya untuk bermain mainan-mainannya. Dari situlah muncul keterbatasan dalam psikologinya karena stress tak bisa bermain apapun.

Tapi, dari semua keterbatasannya, Ia seperti kesempurnaan dalam kekurangan. Di dalam kekurangan dan keterbatasannya, Ia bisa mengajarkan banyak hal. Padahal, usianya baru mencapai sembilan tahun, tapi dia bisa menjadi berkat untuk banyak orang. Aku menjadi mengerti cara untuk ramah kepada orang lain, cara membantu ibu sendiri dengan senyuman yang tulus ikhlas, dan juga cara untuk bermain yang sederhana namun bisa tertawa terbahak-bahak. Lagi-lagi aku memuji anak ini seperti tidak memiliki kekurangan apapun. Kau tahu? Walaupun Ia memiliki keterbatasan dalam mentalnya, tapi dia sangat memiliki banyak talenta, seperti jago menari, otaknya yang cerdas dan cepat tanggap, serta peduli dan menjaga Ibunya. Betapa mulianya Sang Pencipta kita, Tuhan Yesus Kristus, yang mengaruniakan seorang anak yang memiliki kekurangan tetapi dilengkapi-Nya dengan kelebihan. Aku sangat bangga pada dirinya, karena dia juga mengembangkan talentanya. Sungguh terpuji perbuatan anak polos itu.

Kini aku akan mengganti menjadi semi bab. Kali ini aku akan menceritakan sedikit tentang kedua orangtua asuhku yang juga orang tua dari anak itu. Aku akan mengganti kata “Dia” menjadi “Mereka”. Ya, mereka adalah sepasang suami-istri yang hidup dalam kesederhanaan namun bisa menyekolahkan kedua anaknya hingga sarjana. Lagi-lagi pertolongan Tuhan dilibatkan dalam hal ini. Aku banyak memetik buah rohani maupun edukasi moral. Dengan keadaan mereka yang mungkin sangat sederhana, dan memerlukan tetesan keringat dan air mata untuk mengumpulkan seribu rupiah, tetapi Tuhan membantu keluarga itu untuk mendapat lebih dari seribu rupiah. Saat aku di rumahnya, mereka banyak sekali cerita tentang keluarganya. Dan yang terpenting, aku memetik buah kasih. Kasih yang dipecah menjadi berbagi, sayang, bersyukur, damai, dan masih banyak lagi. Sungguh! Kuakui, Tuhan ada untuk keluarga ini. Dan mereka juga yang taat pergi kegereja untuk bersyukur atas apa yang Tuhan telah berikan. Itulah buah petikanku dalam keluarga ini.
Mereka tidak pernah melihat latar belakang seseorang. Aku yang diterima di keluarga ini seperti memiliki keluarga baru. Aku sudah seperti dianggap anak sendiri. Rasanya, aku tidak ingin hanya tiga hari dua malam. Aku ingin bertemu dengan mereka tiap saat. Saking rindunya aku, sampai sekarang, aku masih saja mengabari mereka, ingin tahu bagaimana kabar adikku dan ibuku disana. Karena itu, aku sangat-sangat berterima kasih pada keluarga ini yang telah mengajarkan banyak hal tentang pelajaran hidup. 

Mereka mengajarkan apa yang aku cari. Aku menjadi mengerti kemana aku harus melangkah seperti aku menemukan jati diriku. Karena mereka sangat bermakna dalam hidupku. Mungkin aku sudah berkali-kali untuk melakukan kegiatan Live In, tapi hanya ini yang “ngena banget”
Kau tahu? Aku disana seperti terbangun dari mimpi. Ternyata, mereka memiliki kasih sayang yang besar padaku walaupun aku bukan siapa-siapa di keluarga itu. Aku sangat sayang pada keluarga ini. Aku seperti merasakan hangatnya sebuah pelukan kasih sayang seorang ibu. Aku seperti merasakan hangatnya dekapan seorang ayah. Aku seperti merasakan masa saat aku lahir kembali dan dipeluk, didekap dan di gendong lagi. Sungguh! Aku tak akan menyia-nyiakan waktu bersama mereka. Aku ingin selalu membantu ibuku, karena diapun peduli padaku. Terutama, saat pertama kali aku masuk kerumahnya, aku dijamu dengan sangat baik. Terasa hangatnya sampai kedalam jiwa. Ini seperti cara mereka untuk menghangatkan keluarga ditengah suasana dan udara yang dingin. Aku yakin! Pasti Anda yang pernah merasakan posisi ini juga terasa hangatnya. Rasanya seperti tak pernah kurasakan di kota yang dikenal besar nan luas ini. Dalam lingkup kecil itu, aku bisa memetik buah yang sangat banyak.
“KAMI”. Sekarang aku memulai bab baru lagi sekaligus bab terakhir pada cerita ini. Kami berempat, “AKU”, “DIA”, dan juga “MEREKA” (merekanya dihitung dua yah.. hehehe) menyatukan jiwa dan pikiran dalam sebuah kesederhanaan, kekurangan, ketidaksempurnaan namun bahagia. Temanya adalah kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan. Bukan tentang kekayaan dan harta, namun tentang sederhana dan tawa. Inilah inti buah yang kupetik, bahwa semuanya bisa tetap berjalan dengan penyertaan Tuhan walaupun didalam kesederhaan. Karena Tuhan akan melengkapi bagian-bagian yang kurang. Bagian-bagian yang berlubang, Ia tutupi dengan kesempurnaan-Nya. Sungguh! Inilah yang disebut semangat Kasih Tuhan.

Dan sebagai pelengkap sekaligus penutup, aku akan menegaskan beberapa hal. Di sini, aku hanya membahas tentang “KITA”. Karena yang membuatku terkesan adalah pelajaran hidup yang kupetik buahnya menjadi pengalaman dan bekal masa depanku. Mungkin untuk sebagian orang ini tidak berarti, tapi bagiku, ini sangat bermakna bagiku dan masa yang akan mendatang. Aku mempelajari hidup! Bukan tentang hidup sehat dan organ tubuh seperti biologi. Dan bukan tentang pelajaran Kimia yang mempelajari bahan kimia mana saja yang boleh masuk ke tubuh dan dicerna oleh tubuh atau bahan kimia untuk kosmetik, untuk penyembuhan, dan lain-lainnya. Dan juga bukan tentang pelajaran Fisika yang mempelajari tentang lensa mana yang tepat untuk penyakit mata hipermetropi atau miopi. Dengar dan simaklah! Aku belajar sesuatu yang berarti! Ini adalah harta masa depanku! Aku belajar tentang kenyataan! Ya, biologi, kimia, fisika juga mempelajari tentang hal-hal yang nyata. Namun, ini lebih nyata dari kenyataan! Aku tak bisa mendeskripsikannya tapi ini bagaikan akar dalam pohon! Tanpa akar, tidak akan ada daun, batang, apalagi buah. Inilah akhir kisahku, yang kiranya bisa menjadi berkat untuk yang membacanya! * Jessica Octaviany/XI MIA/11



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Daur Hidup Pohon : Refleksi Hidup dari Pengalaman dan Perjumpaan di Desa Plono Yogjakarta"

Posting Komentar

Tinggalkan kesan bahwa anda pernah singgah, walau hanya sesaat.