Gunung Pancar: Cerita Masa Lalu Clarista Andriyani


Gunung Pancar: Cerita Masa Lalu Clarista Andriyani
Siswa-siswi kelas X SMA Kanaan Jakarta
Dear Diary,
Gunung Pancar,Bogor

            Sekeping Kenangan

Hari Senin - Selasa, tanggal 23-24 April 2018 adalah hari dimana masa lalu itu terjadi, kejadian tersebut terjadi di Gunung Pancar, Bogor, Indonesia. Dengan kakak pembina pramuka dan juga teman-teman kelas 10 IPA dan 10 IPS. Awalnya saya tidak tahu apa tujuan acara ini, tetapi setelah saya berpikir? Ohhh… saya tahu ternyata acara ini dibuat untuk mendidik kami para anak-anak pramuka, bagaimana bisa terjadi? Semua terjadi begitu cepat, sampai kami paham begitu pentingnya acara ini untuk generasi millenium, terjadi dengan lancar, dan semua berakhir lalu menjadi sebuah kata, yaitu 

‘Masa Lalu’.

Bagiku dan bagi kami hidup di hutan adalah hal sulit, melakukan segala sesuatu dengan apa adanya, harus menjalankan semua peraturan, tata tertib dengan taat, jika tidak mungkin kami akan mendapat hukuman. Hidup di hutan memang tidak mudah, tapi itulah yang paling berkesan, sehingga kami tinggalkan semua kenangan manis dan menjadi masa lalu. Tidak mudah untuk menjadikan kegiatan ini menjadi masa lalu,itulah yang membuat kami para generasi milenium menjalankannya dengan tulus hati. Melewati setiap hambatan dan rintangan yang ada,kami berhasil melakukannya. Hujan,panas tidak membuat semangat kami patah,jalan yang curam,berkelok-kelok,licin,berlumpur,kami lewati dengan sepenuh kekuatan kaki kami,mengikat kedua tangan kami saat makan..itu hal yang menyebalkan,tetapi ketika semua itu menjadi masa lalu,kami mnyadari,kami butuh tangan-tangan lain untuk membantu kami makan.

Pelajaran hidup yang berharga,lebih dari emas,perak,dan lain-lain kami dapatkan sekeping kenangan masa lalu di Gunung Pancar. Menjadi pemimpin untuk smua teman-teman,merasakan lelahnya berteriak “Hei..Baris” atau “Halo..bisa diam?”. Lelahnya menjadi ketua sanggah,harus merendahkan hati untuk berkorban untuk anggota sanggah,harus menahan emosi,keegoisan,kemarahan ketika semua tidak terjadi seperti keinginan kita,merasakan sakitnya hati ketika semua mengabaikan,merasakan raga tubuh ini lelah berjalan melalui jalan yang sangat menyebalkan. Tetapi semua itu terjadi karena kakak pembina percaya pada saya untuk bisa mengatur teman-teman,semua itu terjadi karena teman-teman sanggah percaya bahwa saya bisa menjadi komando yang baik untuk mereka ber-sembilan. Lelah,sakit hati yang saya rasakan semua mengalirs seperti air yang berujung pada pendewasaan diri sebagai generasi millenium seperti kami. Terimakasih Gunung Pancar,telah memberikan kenangan manis yang sekarang menjadi satu garis masa lalu yang indah dan berkesan.

Salam,

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gunung Pancar: Cerita Masa Lalu Clarista Andriyani"

Posting Komentar

Tinggalkan kesan bahwa anda pernah singgah, walau hanya sesaat.