Mengenang Kesahajaan Orang Desa: Catatan Pengalaman dan Perjumpaan Annie Novalin


Mengenang Kesahajaan Orang Desa: Catatan Pengalaman dan Perjumpaan Annie Novalin
Pasar Tradisional Plono / Dokumentasi Pribadi 
 “Plono , di mana itu ?” , sebuah nama tempat yang cukup asing bagi diriku dan sempat membuat aku bingung. Di dalam otakku hanyalah terbayang sebuah desa yang  sepadan dengan desa kakekku, namun setelah aku menelesuri , tak disangka bahwa desa tersebut membawa sejuta kenangan yang takkan ku lupakan. Sebetulnya , Desa Plono ini merupakan salah satu bagian dari Samigaluh . 

Desa kecil yang berada di atas pegunungan ini asing bagi dunia di luarnya. Sebagian besar orang tidak menyadari keindahannya , pemandangan jalanan yang penuh dengan kehijauan sungguh berbeda dengan kota yang kutinggali . Di sini aku merasakan bumi yang sesungguhnya , begitukah layaknya alam ? Jalan dihiasi kehijauan , langit biru seperti lautan , angin meniup dengan anggun, malam hari pun ditemani oleh kawanan bintang. Aku menghempaskan nafasku dan menutup mata , aku mendengar merdunya nyanyian pasukan hijau , kali ini aku benar-benar merasakan sebuah kehidupan.            
               
Jumat , 27 April 2018 , mulailah pertualangan kami untuk menuju ke Plono , kami melewati jalan yang berkelok , lembah-lembah , dan juga sejuta mobil yang menghambat perjalanan kami. Kira-kira dua puluh jam telah berlalu, akhirnya kami menapakkan kaki kami di tanah Plono. Walaupun dibumbui sedikit rasa lelah dan badan pegal , aku masih memiliki semangat untuk menjelajah desa ini. Kami berkumpul di gereja terlebih dahulu dan dijemput oleh orangtua asuh masing-masing. 

Aku sangat penasaran dengan orangtua asuh yang akan kudapatkan , “Apakah orangnya ramah atau sebaliknya jutek ?, ah jangan-jangan orangnya suka ngoceh-ngoceh lagi ? , hmmm atau suka gosip ya ? “ Seketika pikiran negatif ini keluar dari pikiran aku. Jantungku dagdigdug ketika namaku dipanggil ke depan untuk menemui orangtua asuhku , ternyata oh ternyata , ibuku adalah seseorang yang super duper kalem dan lembut . Pandangan pertama ia terhadapku hanyalah sebuah senyuman hangat yang menyinari ceritaku di Plono. Setelah kami dijemput, kami jalan menuju ke rumah yang akan kami tinggali selama empat hari. Aku berjalan sambil menarik koper dan menggendong biolaku . Walaupun sedikit lelah , semangatku terisi kembali ketika melihat pemandangan yang luar biasa . Kira-kira kami berjalan selama sepuluh menit , akhirinya kami sampai dan aku terkejut. Mengapa? aku pernah membahas sebelumnya bahwa dalam ekspektasiku rumahnya sepadan dengan rumah kakekku di Kalimantan, namun ini melebihinya. 

Rumahnya terbangun dari kayu , lantainya tanah , dan pintu kamar mandi hanya dapat menutupi setengah badanku. Beruntung saja aku termasuk tipe yang mudah beradaptasi dengan lingkungan.

Sekejap mata , empat hari sudah berlalu , rasanya baru saja aku menapak kaki di sini dan sudah ditarik kembali ke kota Jakarta . Aku menahan air mata dan berpamitan dengan ibuku dan teman-teman hijau di sana . Di dalam perjalanan pulang , aku merenungkan banyak hal , gaya hidup di sini sungguh berbeda di kota.  

Aku mencoba hidup dalam kesederhanaan, merasakan betapa pahitnya sebuah hidup dan memahami betapa berharganya sebuah kehidupan. Menurut aku, hidup di sebuah desa bukanlah sebuah hal yang mudah , mengapa demikian ? Karena karakter dasar orang kota kalah total dengan orang desa yang sudah terlatih sejak dini . Apanya yang terlatih ? Mereka cenderung bekerja keras, rajin, toleransi, dan mandiri. 

Sungguh berbeda dengan karakter orang kota yang cenderung manja dan hidupnya serba praktis. Dari situ aku dapat mengambil beberapa nilai yang patuh kuteladani . Aku pun belajar bagaimana cara dan rasanya hidup jauh dari jangkauan orang tua dan jauh dari zona nyaman. 
Mengenang Kesahajaan Orang Desa: Catatan Pengalaman dan Perjumpaan Annie Novalin
Annie Novalin dan rekan / Dokumentasi Pribadi

Aku bersyukur sekali mengikuti kegiatan ini . Plono oh Plono , tempat sejuta kenangan yang tak dapat kulupakan.




Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengenang Kesahajaan Orang Desa: Catatan Pengalaman dan Perjumpaan Annie Novalin"

Posting Komentar

Tinggalkan kesan bahwa anda pernah singgah, walau hanya sesaat.