Sambutan Hangat di Plono Menjadi Memori Abadi di Yogjakarta


Sambutan Hangat di Plono Menjadi Memori Abadi di Yogjakarta
Sisca Cahyadi (Jaket Hitam)/Dokumentasi Pribadi
Suatu rasa sederhana yang sangat berarti dihidupku. Bukan tanpa sebab mengapa. Rasa cinta dan kasih sayang yang dihaturkan oleh bapak dan ibu membuatku menyadari apa itu keluarga. Meski semuanya hanya berawal dari sebuah kegiatan sekolah, namun bagiku ini adalah sebuah kisah yang tidak kulupakan dari dalam hidupku.Meski kini, semua sudah berubah menjadi sebuah cerita. 

Desa Plono Pagerharjo, sebuah tempat yang nan asri ditambah dengan pemandangan indah yang tidak dapat kunikmati saat aku berada di kota metropolitan, Jakarta. Rumahku tidak-lah jauh saat aku berada disana. Atau bisa kukatakan, rumahku-lah yang paling dekat dengan gereja tempat dimana kami berkumpul. Meski demikian, aku tetap harus melewati tanjakan yang curam untuk sampai kesana. Banyak teman-temanku yang iri, saat tahu rumahku berada ditempat yang paling dekat. Tapi, aku juga tidak dapat membohongi perasaanku sendiri. Ada sisi dimana aku merasa kecewa dengan keadaan. Bukan rumah yang paling dekat-lah yang aku bayangkan. Melainkan rumah yang jauh, yang menjadi harapanku saat berada di Jakarta. Mungkin hal ini terdengar konyol bagi sebagian orang, namun satu-satu alasanku bagiku adalah aku ingin melihati dan menikmati lingkungan disana, sembari pergi menuju tempat kami berkumpul ataupun saat kami harus pulang.

21 jam, waktu yang tidak dapat kudeskripsikan bagaimana rasanya. Tidak ada hal  lain yang dapat kami lakukan sembari didalam bus. Hanya berbagi cerita dan berbagi makanan yang dapat kami lakukan. Terdengar membosankan, namun tidak bagiku saat bersama orang-orang ku sayangi.
Bersama sinar matahari yang sudah mulai bersiap untuk tenggelam, aku melangkahkan kakiku. Melewati sebuah tanjakan nan curam. Kami pun melangkah menuju sebuah gereja, sebuah tempat yang kami sendiri pun tidak mengetahui dimana keberadaan tempat tersebut. Tidak ada yang dapat kami lakukan selain mengikuti arahan Pak Martinus, meski beliau pun tidak mengetahuinya juga.

Semua rasa lelah pun seolah terbayarkan dengan melihat senyum dan sambutan hangat dari bapak dan ibu yang ternyata sudah menanti kehadiran kami sejak pukul 7 pagi. Tidak sampai disana yang mereka berikan, namun semangkuk soto yang sudah mereka siapkan untuk kami, begitu berarti rasanya.

Dengan seksama, kudengarkan acara kegiatan selanjutnya. Hingga saatnya-lah tiba dimana acara pembagian rumah. Sebuah momen yang aku sendiri tidak tahu mengapa apa yang membuat momen ini menjadi momen yang menakutkan, layaknya perasaan yang sama saat pembagian bus. Grace dan Merlyn yang menjadi teman serumahku. Mereka berdua adalah salah dari teman dekatku, meski saat itu kami sudah tidak begitu dekat, entah mengapa. Mungkin perbedaan kelas-lah yang membuat hubungan kami menjadi merenggang.

Aku, Grace, dan Merlyn ditempatkan di rumah sederhana milik Bapak Wibisono. Banyaknya pepohonan di sekitar rumah dan suara ngonggongan dari ke empat anjing kecil miliki Bapak Wibisono-lah yang datang menyambut kehadiran kami. Entah apa yang membuat ke empat anak anjing itu selalu terlihat senang. Namun, ekor yang menjulur dan bergoyang keatas, selalu membuatku ingin tersenyum.

Bapak dan Ibu Wibisono adalah orang yang sangat ramah. Dalam waktu singkat akupun merasa nyaman bersama keluargaku yang baru. Beliau memberikan banyak nilai kehidupan kepada kami selama disana. Canda, tawa , senyum, dan cinta yang seolah menjadi salah dari bumbu penyedap. Ditambahnya suara kicauan burung, gonggongan dan suara kambing yang menambah kesan khas yang menarik selama aku berada di sana.

Bagiku, semua ini tidak akan menjadi lengkap tanpa kehadiran sesosok anak perempuan yang bernama Lydia di rumah. Kami selalu bermain bersama. Mulai dari permainan sederhana seperti tebak-tebakan,macan. Hingga permainan yang kuanggap sebagai permainan baru, seperti permainan  berjalan diatas bambu atau yang dikenal seperti enggrang. Permainan yang aku sendiri tidak pernah terpikir untuk memainkannya saat berada di Jakarta. Dia selalu memiliki banyak trik kecil untuk menipuku. Ya, aku selalu dikalahkan oleh anak berusia 10 tahun.
Berbahasa Jawa, adalah keahlian dari anak perempuan berusia 10 tahun ini. Lydia sangat fasih dalam berbahasa. Terutama Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Selain pintar dalam berbahasa, Lydia juga pandai dalam menulis tulisan aksara. Kamipun diajari bagaimana berbicara bahasa jawa yang benar dan rupanya Merlyn menyesuaikan diri dengan begitu cepat dibandingkan aku dengan Grace. Meskipun suara aksen yang semula normal dengan Bahasa Indonesia, kini menjadi bercampur dengan intonasi aksen dari Bahasa Jawa untuk sesaat.

Pentas seni atau yang disebut acara pensi menjadi puncak acara kegiatan kami, sekaligus menjadi malam terakhir kami di Desa Plono Pagerharjo. Sebuah acara yang telah kami persiapkan, jauh sebelum kami datang ke Desa Plono. Aku dan kelasku menyiapkan sebuah drama yang berceritakan tentang sebuah kisah cinta klasik, Rama dan Shinta. Meski begitu merepotkan, dan rupanya ekspetasi yang terlalu tinggi menghancurkan sedikitnya harapan kami. Ada rasa kepuasan tersendiri saat melihat penonton yang menyaksikan drama kami, dapat tersenyum dan tertawa lebar saat melihat penampilan kami.

Saat itu, suara kambinglah yang membangunkanku dari tidurku, mengingatkanku akan kepulanganku hari itu. Kutarik nafasku dalam-dalam, menyadari keberadaanku tidak-lah lama lagi di Desa Plono. Sepulang dari pasar, kamipun bersiap-siap merapihkan barang-barang yang menjadi bawaan kami. Tanpa kusadari, aku mengingat apa yang telah Ibu berikan kepada ku. Padahal aku bukan-lah siapa-siapa dalam keluarga, bahkan tiada ikatan darah yang terikat. Namun, perlakuan yang ibu seolah mengingatkanku pada keluargaku dirumah.

Tidak peduli ada ikatan atau tidak , karena sebuah cinta tidak mengenal batas. Penjelasan singkat yang dihaturkan Bapak Wibisono yang seolah membuat langkahku semakin berat,saat harus pergi meninggalkan rumah.  Ingin rasanya berada lebih lama disana. Namun, seolah waktu yang tidak memihak kepada keinginanku. Waktu kini terus maju, hari dari kepulanganku-pun semakin jauh. Rasa cinta yang tidak kuingin kulupakan di Desa Plono Pagerharjo.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sambutan Hangat di Plono Menjadi Memori Abadi di Yogjakarta "

Posting Komentar

Tinggalkan kesan bahwa anda pernah singgah, walau hanya sesaat.