Satu Cinta di Desa Plono Yogyakarta: Catatan Reflektif Gadis Metropolitan

Satu Cinta di Desa Plono Yogyakarta: Catatan Reflektif Gadis Metropolitan
Rombongan live in SMA Kanaan Jakarta berjalan menuju Gereja Kristen Jawa di Desa Plono, sekitar 270 kaki dari permukaan laut pantai selatan 


Suatu masa yang tak pernah tenggelam. Sebuah cerita yang tak tertelan oleh waktu. Berawal dari sebuah kegiatan sekolah, sekarang menjadi sepenggal kenangan yang selalu terukir indah. Rekam memori di desa Plono Pagerharjo, Samigaluh, Yogyakarta membuatku ingin menuangkannya dalam tulisan ini.
Satu Cinta di Desa Plono Yogyakarta: Catatan Reflektif Gadis Metropolitan
Christina (Baju kuning-kiri) gadis metropolitan yang menemukan "cinta" di desa Plono

       Suasana alam yang masih tampak asri dengan warna hijau yang mendominasi menjadi gambaran desa tempatku bermukim. Jalan yang berkelok-kelok memacu adrenalinku untuk menyusurinya. Tanjakan dan turunan pun ikut ambil bagian dalam tantangan Live In ku. Di desa kecil nan sederhana inilah kisahku dimulai.

       Bersama cahaya matahari aku melangkahkan kaki selangkah demi selangkah untuk mencapai gereja yang tidak kuketahui dimana lokasinya dan bagaimana bentuknya. Aku hanya mengikuti teman-temanku dan perintah dari guruku, Pak Martinus. Rasa lelah semakin menerpaku ketika harus berjalan menanjak ditambah jarak yang sangatlah jauh. Tapi ketika melihat senyum warga desa yang menyambut kedatanganku, rasa lelah itu sedikit demi sedikit hilang. Terbayar sudah ketika aku menginjakkan kaki di aula gereja.
       
Satu Cinta di Desa Plono Yogyakarta: Catatan Reflektif Gadis Metropolitan
Melepas lelah dengan menyantap hidangan penuh cinta dari Jemat Gereja Kristen Jawa di Plono
Dengan segelas teh hangat di tanganku, aku mendengarkan rentetan acara yang akan kulakukan selama beberapa hari ke depan. Tibalah saat yang cukup menegangkan bagiku yaitu pembagian kelompok rumah. Ada sedikit perasaan kesal saat mengetahui bahwa aku tidak bersama dengan teman dekatku, tapi aku tahu bahwa ada maksud terselubung dari hal tersebut. Aku pun mencoba berbaur dengan teman serumahku yakni Vina Callista.
       

Aku dan Vina ditempatkan di sebuah rumah sederhana milik Bapak Suherman. Hijaunya pepohonan dan cuitan burung yang dipelihara menjadi sambutan pertama ketika aku tiba disana. Dedaunan yang berjatuhan menambah kesan indah rumah keluarga kecil tersebut.
       
Satu Cinta di Desa Plono Yogyakarta: Catatan Reflektif Gadis Metropolitan
Warga Jemat Gereja Kristen Jawa yang Menanti Rombongan Live In di Depan Gereja
4 hari bersama keluarga Bapak Suherman memberikanku banyak pembelajaran tentang nilai kehidupan yang mulai ditinggalkan oleh orang kota. Canda, tawa, cinta dan kehangatan menjadi bumbu penyedap keseharianku bersama dengan keluarga baruku. Suara tokek di malam hari turut meramaikan keluarga kecil nan sederhana tersebut.
       
Keramahan yang diberikan Bapak Suherman, Ibu Minart dan anak semata wayangnya Rafael Gilang Praditya, menjadi sebuah teguran untukku. Mereka tidak segan-segan menyapa warga sekitar ketika melewati rumah tetangga. Sedangkan aku, menyapa tetangga yang tepat disebelah rumahku saja jarang.
       
Keluarga yang piawai memainkan alat musik gitar ini mengajarkanku satu hal yakni kebersamaan. Mereka saling membantu pekerjaan satu sama lain tanpa ada satupun yang meminta tolong ataupun memerintah. Berbeda dengan kehidupan di kota, kebanyakan orang kota termasuk aku melakukan sesuatu ketika disuruh.
       

Di waktu yang terbilang singkat, aku sudah merasa dekat dengan keluarga sederhana tersebut. Di tengah kesibukan mereka, mereka meluangkan waktu untuk mengantar dan menjemputku ketika aku melakukan kegiatan sekolah. Ada perasaan tidak enak hati terutama saat mengetahui bahwa kamar yang kutempati adalah kamar milik Rafael atau yang akrab disapa Dito dan pemilik kamar tersebut harus tinggal di rumah orang lain. Ditambah ketika sekolah membuat agenda hiking, tanpa mempedulikan jarak yang jauh, Ibu Minart datang ke gereja hanya untuk memberikanku dan Vina bekal makanan. Gelapnya malam tak mereka indahkan, keluarga kecil tersebut tetap menunggu kepulanganku dengan cinta.     
       
Hampir di setiap harinya aku diantar dan dijemput oleh Dito membuatku cukup mengenal sosok yang masih duduk dibangku 3 SMP tersebut. Tingkahnya yang ajaib mencairkan suasana selama perjalanan. Ia mengajarkanku dan Vina berbicara dalam bahasa Jawa. Canda dan tawa menjadi sebuah paket pelengkap.
       
Satu Cinta di Desa Plono Yogyakarta: Catatan Reflektif Gadis Metropolitan
Pasar di Desa Plono Yogjakarta
Kegiatan Live In terasa hampa jika tidak merasakan kegiatan yang dilakukan oleh sebagian pemuda dan pemudi desa Plono. Dari kegiatan Pendalaman Alkitab, aku mengenal beberapa orang yang ambil bagian dalam kegiatan tersebut yakni Kak Tami, Mas Didot, Galih, Dito dan masih banyak lagi. Tak hanya mendengar firman Tuhan, disana banyak menyanyikan lagu rohani yang cukup familiar ditelingaku, dan saling berbagi pengalaman. Ditemani dengan segelas teh hangat, aku dan teman-temanku dikenalkan dengan makanan khas daerah Plono. Salah satunya adalah geblek.
       
Indahnya berbagi juga menjadi cerita tersendiri bagiku. Terjual delapan puluh paket sembako di pasar murah yang diadakan oleh sekolah dengan membawa kupon seharga sepuluh ribu. Di tengah teriknya matahari, kegiatan pasar murah tetap terlaksana di pekarangan gereja Plono. Melihat satu per satu warga desa berdatangan, membuat senyumku mengembang bersamaan dengan senyum yang terpancar oleh mereka.
       
Malam puncak yang diadakan di gereja merupakan sebuah pengalaman berharga untukku. Antusiasme dari penonton cukup membakar semangatku dan teman-teman sekelasku untuk menampilkan drama. Persiapan yang kami lakukan selama di Jakarta akhirnya sampai pada puncaknya yakni penampilan. Meskipun tidak sesuai dengan harapan, tapi kami tetap bersyukur bahwa kami sudah melakukan yang terbaik. Disanalah aku menemukan sebuah arti kebersamaan yang terjalin di kelasku. Jika di sekolah aku dan teman-temanku terlihat seperti kelompok-kelompok kecil, di balik panggung malam puncak kebersamaan kami terlihat. Kami keluar dari kelompok di Jakarta dan saling membantu sama lain hingga tidak terlihat lagi kelompok kecil di sekolah.
       
Tak terasa sinar mentari pagi, kicauan burung dan deruman motor menyadarkanku untuk kembali ke kehidupan normalku di kota metropolitan. Penatnya kehidupan kota kembali muncul dalam benakku. Baru rasanya aku meninggalkan semua itu kemarin dan tepat pada hari itu juga aku mengambilnya lagi. Waktu yang terus berlalu tak mampu menghapus cerita indah tentang desa sederhana tersebut. Senyum yang terlempar oleh masyarakat desa menjadi cindramata untukku dan nilai kehidupan yang kupetik disana menjadi buah tangan bagiku.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Satu Cinta di Desa Plono Yogyakarta: Catatan Reflektif Gadis Metropolitan"

Posting Komentar

Tinggalkan kesan bahwa anda pernah singgah, walau hanya sesaat.