Vanessa: Indahnya Kebersamaan dalam Kesederhanaan Bagian Akhir



Vanessa: Indahnya Kebersamaan dalam Kesederhanaan Bagian Akhir
Vanessa dan rekan seperjalanan / Dokumentasi Pribadi
Hari ketiga, saya melihat ibu ada di kebun, lalu menghampiri dan membantunya memetik daun singkong di kebun miliknya.

Siang hari ini, kami akan kembali ke Jakarta. Sebelum meninggalkan rumah orangtua asuh, Saya dan Michelle berencana untuk membelikan souvenir dan bahan-bahan masak yang biasa ibu pakai. Jadi, kami memutuskan untuk pergi ke pasar Samigaluh yang letaknya dekat rumah kami.    

Saat kembali, kami mengemas barang-barang bawaan karena kami akan segera meninggalkan desa ini.. Ketika orangtua asuh kami berkumpul melambaikan tangan atas kepergian kami, saya tahu bahwa perpisahan merupakan hal yang berat . Mungkin beberapa dari kami ada yang sempat menangis namun ada juga yang tersenyum bahagia karena merasa sangat bahagia telah menyelesaikan kegiatan live-in dengan baik bersama dengan mereka. Setelah mengucapkan salam perpisahan dengan keluarga asuh, kami bergegas menuju bus yang akan mengantar kami berwisata ke Malioboro sebelum kembali ke Jakarta.

Kesan saya dari kegiatan live-in selama tiga hari ini adalah saya merasa sangat senang, bangga, dan puas atas semua yang telah saya lewati baik selama maupun sebelum live-in. Atas segala jerih payah baik dalam mengumpulkan dana yang kurang,  mempersiapkan kabaret kelas, membuat properti, pengumpulan sembako murah dan lain sebagainya yang sangat melelahkan. Akhirnya, kegiatan live-in dapat berlangsung dengan baik dan semua itu tidak terlepas oleh pimpinan Tuhan.

Saya juga bersyukur ditempatkan di rumah kediaman ibu Supiyati dan Bapak Jono karena mereka sangat ramah meskipun kami adalah orang asing tapi mereka mau menerima dan tetap mengasihi kami sama seperti anak mereka sendiri. Hal itu dapat dilihat dari perhatian yang selalu beliau berikan  dari hari kedatangan hingga kepulangan kami. Ibu dengan senang hati membuatkan kami sarapan dan makan malam. Terkadang beliau juga bercerita tentang kebiasaan warga desa Plono hidup rukun  diantara tetangga dan rasa toleransi yang tinggi diantara umat beragama. 

Kesederhanaan keluarga Ibu Supiyati membuat saya bersyukur dengan kondisi saya saat ini. Dalam kesederhanaan masih ada kebahagian, dapat berkumpul dengan keluarga dan berbagi dengan sesama.

Jauh dari kehidupan perkotaan, yang penuh kemewahan, sibuk dengan kegiatan masing-masing, jarang bertegur sapa. Dalam satu rumah pun, sesama anggota keluarga jarang bertemu. Orangtua berangkat bekerja pagi-pagi, pulang larut malam. Menyapa anak-anak melalui chat dihandphone. Kebahagian tak diukur dari harta kekayaan. Kebahagiaan bukan datang dari hal besar, agung, mewah dan mahal. Tetapi dari hal kecil dan sederhana. Bahagia itu sederhana.
        
Pesan saya selama kegiatan ini adalah jangan pernah lupa untuk bersyukur dalam hidup ini dan berbuat baiklah mulai dari hal-hal kecil. Berbagi adalah salah satu cara untuk bersyukur atas nikmat Tuhan daripada sibuk mengeluh dan menyalahkan keadaan. Sesederhana apapun kehidupan ibu Supiyati sekeluarga, mereka selalu bahagia dan saling berbagi. Berbagi tidak akan membuatmu kekurangan. Mensyukuri apa yang dilihat, yang didengar, yang dirasakan, yang dimiliki, maka kita akan merasakan kebahagiaan hidup ini. Bahagiakan diri dengan bersyukur dan melakukan hal-hal baik dan bermanfaat.* Vanessa / XI.MIA SELESAI



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Vanessa: Indahnya Kebersamaan dalam Kesederhanaan Bagian Akhir"

Posting Komentar

Tinggalkan kesan bahwa anda pernah singgah, walau hanya sesaat.